Namun, untuk saat ini, hasil kesepakatan tarif RI-AS dipandangnya sudah cukup baik, meski belum sempurna.
“Akan tetapi, [realokasi impor migas ke AS] bisa menyelamatkan komoditas ekspor kita yang lain, sehingga secara keseluruhan masih oke lah. Tidak mungkin di dalam negosiasi ingin semuanya menang dan sempurna, harus setimbang,” tegasnya.
Fokus Eksplorasi
Sebagai tindak lanjut, Hadi menyarankan agar Indonesia harus tetap fokus mencari pasar ekspor alternatif di luar AS dalam jangka menengah dan panjang.
Dengan demikian, lanjutnya, Indonesia secara perlahan bisa mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor ke Negeri Paman Sam.
“Tujuan utamanya dalam jangka panjang, jika kita sudah menemukan pasar lain, kita tidak harus ekspor ke AS dan sebagai trade off kita tidak harus semua impor energi dari AS. Pelan tetapi pasti, bisa mencari sumber energi yang lebih murah, tetapi perdagangan dengan AS juga bisa dijaga keseimbangannya,” kata Hadi.
Sembari melakukan strategi tersebut, Hadi menyarankan pemerintah untuk tidak lupa meningkatkan program eksplorasi migas guna mengerek produksi nasional. Harapannya, dalam jangka panjang, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor dan menuju swasembada energi.
Trump baru saja mengumumkan bahwa tarif impor atas produk dari Indonesia ditetapkan sebesar 19%, lebih rendah dibandingkan dengan 32% yang sebelumnya disampaikan.
Dia juga menegaskan kesepakatan ini mencakup komitmen Indonesia untuk melakukan pembelian produk energi dari Amerika Serikat senilai hingga US$15 miliar, serta berbagai komoditas lainnya.
Menanggapi keputusan tersebut, PT Pertamina (Persero) mengaku masih membutuhkan waktu untuk mendiskusikan teknis kesepakatan impor komoditas energi dari AS.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Wakil Komisaris Utama Pertamina Todotua Pasaribu mengatakan perusahaan migas milik negara itu kini sedang mengkaji dan menyesuaikan dampak strategis dari keputusan tersebut.
Menurutnya, kesepakatan impor energi antara Pertamina dan korporasi migas AS—baik terkait dengan jenis dan volume komoditas yang akan diimpor maupun rencana investasi Pertamina di Negeri Paman Sam — masih dalam tahap pembicaraan.
“Masih pembicaraan mengenai itu,” ujar Todotua saat ditemui dalam agenda Pertamina Investor Day 2025, Rabu (16/7/2025).
“Belum ada [investasi baru ke AS]. Akan tetapi, kalau beberapa yang sudah berjalan seperti [dengan] Pertamina, itu kan dulu sudah ada investasi lapangan sumur di sana,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Todotua menyebut pemangkasan tarif AS yang baru diumumkan Rabu (15/7/2025) waktu setempat merupakan sinyal bahwa posisi Indonesia makin diperhitungkan oleh Washington.
“Kalau mau berbicara begitu, ya negara kita ini strategis. Amerika sudah mau menurunkan dari 32% ke 19%,” ujar Todotua.
Dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, lanjutnya, pemangkasan tarif untuk Indonesia tergolong signifikan.
Pertamina baru-baru ini sudah menandatangani tiga nota kesepahaman business to business (B2B) di bidang pengadaan feedstock minyak dan kilang melalui anak usahanya PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), masing-masing dengan ExxonMobil Corp., KDT Global Resource LLC., serta Chevron Corp.
Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$36,27 miliar. Postur impor itu berasal dari pembelian minyak mentah sekitar US$10 miliar dan hasil migas sebesar US$25,92 miliar.
Sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi, Angola, Nigeria hingga Australia. Sementara itu, impor BBM kebanyakan berasal dari kilang di Singapura.
(wdh)






























