Meski demikian, Josua mengatakan, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% masih cukup terbuka, kemungkinan besar pada RDG September 2025.
Menurutnya, hal ini didasarkan pada prospek makin jelasnya arah kebijakan perdagangan AS, terutama dengan adanya tenggat waktu perundingan yang jatuh pada 1 Agustus 2025. Pernyataan terbaru dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa kebijakan tarif 32% yang diterapkan AS terhadap produk ekspor Indonesia ditunda sementara, dengan harapan kesepakatan final dapat tercapai dalam tiga minggu ke depan.
"Jika kesepakatan ini berhasil dicapai, maka tekanan pada rupiah dapat berkurang secara signifikan, membuka jalan bagi BI untuk memangkas suku bunga mengikuti tren pelonggaran moneter global yang juga diperkirakan akan dilakukan The Fed pada pertemuan Federal Open Market Commitee September 2025," ujarnya.
Di sisi lain, kebijakan tarif balasan AS ini tidak dapat diabaikan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meski skala dampaknya relatif terbatas, dengan AS berkontribusi sekitar 9–10% dari total ekspor nasional, pengenaan tarif sebesar 32% tetap berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 0,3 hingga 0,5 poin persentase.
Menurutnya, pemerintah perlu secara aktif mengambil langkah-langkah antisipatif dan negosiasi efektif dengan AS untuk meminimalisasi dampak tersebut. Selain itu, prospek penerapan cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) pada semester II 2025 juga akan menambah pertimbangan baru bagi BI dalam menjaga inflasi inti. Kebijakan cukai ini berpotensi mendorong kenaikan inflasi secara bertahap, sehingga BI akan cermat mengkaji dampak kebijakan tersebut terhadap stabilitas harga sebelum memutuskan pelonggaran moneter lebih lanjut.
"Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, keputusan Bank Indonesia dalam RDG bulan ini untuk mempertahankan suku bunga di 5,50% merupakan langkah bijak dan hati-hati dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang meningkat," ujarnya.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual memproyeksi BI Rate tetap ditahan pada level 5,5% pada RDG bulan ini. David juga tidak menampik bahwa indikator ekonomi domestik yang melambat memberikan ruang untuk pemotongan suku bunga. Namun, masih ada ketidakpastian tarif Trump yang ditunda tenggatnya ke awal Agustus yang bisa mendorong volatilitasi di pasar finansial.
"Proyeksi masih ditahan [di level 5,5% pada RDG bulan ini]," ujar David.
Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai BI akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basispoin ke level 5,25% pada RDG bulan ini. Hal ini terjadi karena tingkat inflasi yang rendah dalam sasaran 2,5% plus minus satu persen, tidak adanya risiko besar untuk depresiasi rupiah yang dalam dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Pemangkasan 25 basispoin ke level 5,25%," ujar Asmoro.
Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 31 analis/ekonom hingga Selasa (15/7/2025) pagi menghasilkan median proyeksi suku bunga acuan masih akan bertahan di 5,5%.
Namun suara pasar tidak bulat. Dari 31 analis/ekonom yang terlibat dalam pembentukan konsensus, 14 di antaranya memperkirakan BI Rate bisa turun 25 basis poin (bps) ke 5,25%. Artinya, ada sekitar 45% ekonom/analis di konsensus yang memperkirakan demikian. Bukan jumlah yang kecil.
(lav)
































