Dalam catatan BMKG mengutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Januari hingga September 2019 terdapat 98% bencana hidrometeorologi dengan wilayah yang paling banyak terjadi di Jawa Tengah dengan jumlah 692 kejadian.
Sementara itu, BMKG dalam prediksi terbarunya menyatakan sejak Mei 2025, telah terjadi anomali curah hujan akibat kombinasi beberapa faktor, di antaranya pelemahan Monsun Australia, suhu muka laut yang lebih hangat dari normal, serta gangguan atmosfer seperti gelombang Kelvin dan pola konvergensi angin.
Dampak dari fenomena ini terasa khususnya di wilayah Jawa Tengah, terutama di daerah dataran tinggi dan kawasan aliran sungai (DAS), yang kini dikategorikan sebagai zona merah rawan bencana. Potensi hujan harian dengan intensitas lebih dari 100 mm dinilai dapat memperparah risiko banjir bandang dan tanah longsor.
Oleh karenanya, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca terkini dan mengikuti peringatan dini untuk meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan gangguan transportasi.
"Kami mengajak seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tidak lengah dan selalu waspada terhadap perkembangan cuaca, karena dinamika atmosfer yang terjadi saat ini masih cukup kompleks," tutur Kepala BMKG Dwikorita.
(prc/wep)






























