Logo Bloomberg Technoz

Yang tidak biasa, tampaknya pesawat kehilangan daya secara bersamaan pada kedua mesin—tidak ada kepulan asap yang menandakan tabrakan dengan burung, atau gerakan yang biasanya terjadi jika salah satu mesin gagal terlebih dahulu. 787 Dreamliner dan pesawat komersial lainnya memiliki daya lebih dari cukup untuk menyelesaikan lepas landas dengan satu mesin, dan pilot sangat siap menghadapi situasi tersebut.

Namun, bagaimana dengan skenario di mana kedua mesin mati secara bersamaan? "Sangat mustahil terjadi," kata Fehrm.

Beberapa faktor utama potensial mulai terungkap, meski kurangnya pengarahan atau informasi terbaru dari pemerintah setempat atau Badan Investigasi Kecelakaan Pesawat India, yang memimpin investigasi. Rekaman suara kokpit dan data penerbangan sudah diambil dari reruntuhan pesawat, dan isinya diekstraksi oleh otoritas India.

Salah satu penyelidikan khusus ialah pergerakan sakelar pengendali bahan bakar yang terletak di konsol tengah kokpit, menurut sumber yang mengetahui hal ini dan berbicara secara rahasia karena informasinya belum dipublikasi. Perangkat tersebut digunakan untuk menghidupkan dan mematikan pasokan bahan bakar ke dua mesin buatan GE Aerospace.

Puing pesawat Air India terlihat di lokasi jatuhnya di Ahmedabad, Gujarat, India, Jumat (13/6/2025). (Siddharaj Solanki/Bloomberg)

Belum diketahui apakah pilot mengaktifkan sakelar tersebut—baik secara tidak sengaja maupun sengaja—dan kapan selama penerbangan pergerakan tersebut mungkin terjadi. Rincian ini pertama kali dilaporkan oleh The Air Current, sebuah publikasi industri penerbangan.

Wall Street Journal pada Kamis melaporkan bahwa temuan awal menunjukkan sakelar bahan bakar dimatikan, meski tidak jelas apakah disengaja atau tidak dan apakah ada upaya untuk mengaktifkannya kembali, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.

Perwakilan GE Aerospace menolak berkomentar. Boeing merujuk pertanyaan ke AAIB. Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) juga merujuk pertanyaan ke otoritas India.

Otoritas kecelakaan udara India belum membalas email yang meminta konfirmasi mengenai laporan ini.

Kecelakaan penerbangan biasanya disebabkan oleh berbagai faktor, dan para penyelidik sedang menyelidiki beragam aspek terkait kecelakaan tersebut.

Sejauh ini, para penyelidik juga belum menemukan bukti yang menunjukkan kecelakaan tersebut disebabkan oleh masalah desain atau mekanis pada pesawat Boeing atau mesin GE, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.

Mereka menyoroti fakta bahwa baik perusahaan maupun Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) belum mengeluarkan pemberitahuan atau buletin keselamatan kepada operator, yang menurut mereka biasanya akan cepat dilakukan jika teridentifikasi masalah yang mengancam pesawat 787 lain yang beroperasi.

Para penyelidik juga sedang memeriksa latar belakang dan pengalaman para pilot—langkah normal dalam investigasi semacam ini. Pesawat itu dikomandoi oleh Kapten Sumeet Sabharwal dan Kopilot Clive Kunder, yang masing-masing memiliki 8.200 dan 1.100 jam terbang, menurut pernyataan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil.

Banyak yang menduga jet 787 yang naas itu mengalami kegagalan mesin ganda, terutama setelah bukti awal menunjukkan sumber daya cadangan darurat, yang dikenal sebagai turbin udara ram, telah diaktifkan.

Namun, para pilot mengatakan bahwa menghidupkan kembali mesin pada ketinggian dan kecepatan rendah hanya beberapa detik setelah 787 lepas landas tidaklah mungkin. Artinya, kru kokpit tidak punya cukup waktu untuk menyalakan kembali mesin.

John Cox, mantan pilot maskapai penerbangan yang kini menjabat sebagai CEO konsultan Safety Operating Systems, mengatakan bahwa memindahkan sakelar ke posisi cutoff akan menghentikan pasokan bahan bakar ke mesin. Gagal ganda akan terjadi jika sakelar kedua mesin pada 787 dipindahkan. 

"Jika Anda memindahkan sakelar dari posisi run ke cutoff, mesin-mesin tersebut akan berhenti beroperasi dalam hitungan detik," jelas Cox.

Cox menekankan perpindahan sakelar secara sengaja tidak bisa diabaikan. Namun, ada juga kemungkinan skenario lain, termasuk salah satu mesin rusak dan pilot mencoba menekan sakelar mesin tersebut, tetapi malah menekan sakelar mesin yang masih berfungsi.

Pemadam menyiram puing-puing pesawat Air India yang jatuhdi Ahmedabad, Gujarat, India, Kamis (12/6/2025). (Siddharaj Solanki/Bloomberg)

Ini bukan kali pertama insiden semacam ini terjadi—seorang pilot Delta Air Lines Inc pada 1980-an secara tidak sengaja memutus pasokan bahan bakar ke mesin Boeing 767 yang dia terbangkan. Namun, dalam kasus tersebut, dia berhasil menyalakan kembali mesin tersebut karena pesawat berada lebih tinggi di langit, sehingga selamat.

Pilot juga bisa memindahkan sakelar bahan bakar untuk mengatasi kedua mesin yang mati. Daftar periksa darurat yang harus diingat pilot menginstruksikan awak pesawat untuk memutar sakelar bahan bakar ke posisi mati dan kemudian kembali ke posisi hidup jika terjadi insiden tersebut.

Beberapa pilot yang menerbangkan pesawat tersebut berbicara kepada Bloomberg bahwa memindahkan tuas ke posisi mati dan kembali menyalakannya bisa membuat sistem kontrol mesin elektronik mengatur ulang.

(bbn)

No more pages