Hal serupa disampaikan oleh Alfret Salatang, seorang nelayan dari Pulau Laotongan. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran listrik membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir. Menurutnya, aktivitas melaut kini menjadi lebih efisien karena penerangan yang memadai membantu persiapan di malam hari.
“Dulu kita cuma bisa tangkap ikan 15-20 kilo karena harus langsung dimakan atau dijual. Tapi setelah adanya listrik, kita bisa gunakan kulkas, bisa tambah hasil tangkapan untuk disimpan dan dijual. Jadi pendapatan juga bertambah,” ungkapnya.
Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, menyebut bahwa kehadiran listrik telah membuka berbagai akses baru yang sebelumnya terbatas bagi masyarakat. Menurutnya, ketersediaan energi listrik tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan dengan memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih optimal, tetapi juga memperkuat layanan kesehatan yang kini dapat beroperasi dengan peralatan medis yang memadai.
“Sebelum adanya listrik, kami sangat terbatas dalam segala hal. Tetapi setelah hadirnya listrik, pertama nelayan kami bisa menyimpan hasil tangkap perikanannya. Kedua, anak-anak kami bisa belajar di waktu malam. Ketiga, kesehatan kami, secara teknologi juga bisa dinikmati,” jelasnya.
Tantangan geografis tidak menyurutkan semangat PLN untuk melistriki daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Dari Manado, akses ke dua pulau ini hanya bisa ditempuh lewat laut selama 12 jam. Namun bagi PLN, semangat menghadirkan keadilan energi tak mengenal batas.
Usman Bangun, General Manager PLN UID Suluttenggo, menyampaikan bahwa PLN juga membangun infrastruktur pendukung, seperti jaringan distribusi sepanjang 3,94 kilometer dan tiga trafo distribusi berkapasitas total 150 kVA.
“Agar suplai listrik untuk masyarakat Pulau Lipang dan Pulau Laotongan terus andal, kami juga membangun 1,62 kilometer sirkuit (kms) Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dan 2,32 kms Jaringan Tegangan Rendah (JTR) serta 3 buah trafo distribusi dengan total kapasitas 150 kilovolt ampere (kVA) yang menghubungkan listrik dari PLTS ke pelanggan. Kami percaya bahwa listrik adalah fondasi utama kemajuan, baik untuk pendidikan, kesehatan, maupun peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Usman.
Kini, 180 rumah tangga di dua pulau itu telah menikmati listrik selama 24 jam setiap hari. Lebih dari sekadar menghadirkan terang, energi bersih dari matahari ini menjadi simbol hadirnya negara, menyalakan harapan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah bagi warga di ujung negeri.
(tim)
































