• US$6,85 per hari untuk negara berpendapatan menengah ke atas
Indonesia sendiri baru dikategorikan sebagai negara menengah atas sejak 2023. Jika digunakan ambang batas menengah bawah, angka kemiskinan Indonesia pada 2024 hanya 15,6%, atau sekitar 44,4 juta orang. Bahkan yang hidup dalam kemiskinan ekstrem hanya sekitar 1,3%.
Pengamat ekonomi dan perbankan dari Binus University, Doddy Ariefianto, menyebut angka 60% lebih sebagai overstatement jika digunakan tanpa konteks.
“Saya lebih setuju dengan standar US$3,65 per hari. Angka 60%+ itu lumayan kontroversial, mendekati negara gagal. Kita bukan negara gagal dan insyaallah nggak ngarah ke sana,” ujar Doddy.
“Kita juga sudah mulai established jaring pengaman sosial: BLT, BPJS Kesehatan, subsidi kesehatan,” lanjutnya.
Doddy juga menekankan bahwa kemiskinan tak bisa hanya diukur dari pengeluaran per hari.
“Mendefinisikan kemiskinan itu nggak mudah karena mencakup tidak hanya daya beli tapi juga akses atau availabilitas. Buat apa punya income US$10 per hari kalau beras sulit ditemukan di pasar?”
Sementara itu, data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka penduduk miskin per September 2024 sebesar 24,06 juta jiwa — turun dari 25,22 juta pada Maret 2024. Ini menunjukkan tren yang konsisten terhadap penurunan angka kemiskinan absolut di Indonesia.
Pemerintah pun terus menggenjot berbagai program penanggulangan kemiskinan melalui bantuan sosial, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Kesimpulannya, klaim “6 dari 10 orang Indonesia miskin” perlu dibaca dengan cermat. Itu bukan berarti mayoritas rakyat hidup dalam kemiskinan ekstrem, melainkan belum mencapai standar konsumsi harian negara-negara maju. Indonesia sedang melangkah menuju kesejahteraan yang lebih merata—secara bertahap namun pasti.
(aji)































