Logo Bloomberg Technoz

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat yang paling tinggi dalam 5 tahun terakhir adalah pada 2022, yakni US$28,18 miliar. 

Posisi kedua nilai ekspor nonmigas ke AS yang tertinggi adalah pada 2024 yakni sebesar US$26,31 miliar. Selanjutnya, posisi ketiga adalah pada 2021 sebesar US$25,79 miliar. 

Dari sisi komoditas, mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian dan aksesorinya (rajutan) serta alas kaki merupakan komoditas unggulan. 

Menurut Purbaya, perdagangan internasional harus dilihat secara keseluruhan, bukan parsial. Bila semua negara yang terdampak tarif, maka Indonesia relatif diuntungkan dengan kebijakan tersebut.

Ekonomi Bisa Tumbuh 4,6%

Berkaca dari pengalaman pada 2009, Purbaya mengatakan, perekonomian Indonesia setidaknya bisa tumbuh 4,6% bila terjadi turbulensi ekonomi akibat kebijakan Trump.

BPS mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2009 adalah 4,5% terhadap 2008, atau secara tahunan (year-on-year/yoy).

Hal itu terjadi karena perekonomian Indonesia sangat bergantung terhadap konsumsi dalam negeri. Dengan demikian,  Purbaya menilai "Kalau permintaan domestik sebagai konsumsi dan investasi itu sekitar 95%. Let's say kita keluarkan ekspornya aja, sekitar 75%."

Sekadar catatan, BPS melaporkan sepanjang 2024 seluruh komponen pengeluaran untuk pertumbuhan ekonomi mengalami tren positif. Komponen dengan distribusi terbesar adalah konsumsi rumah tangga sebesar 54,04%.

Peringkat kedua adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dengan distribusi 29,15%. Selanjutnya, ekspor menempati posisi ketiga dengan distribusi 22,18%.

Simak wawancara lengkap bersama Purbaya Yudhi Sadewa hanya di Special Interview Bloomberg Technoz.


(lav)

No more pages