"Misalnya ada deepfake, tanda kutip 'panggil keluarga', lalu masuk ke telinga mereka yang menawari ini-itu, ya mereka akan ambil tanpa berpikir panjang."
Ia menambahkan, fenomena ini memberi kesan di lapangan seolah terjadi praktik jual-beli data pribadi secara terang-terangan. Oleh karena itu menurutnya akan cukup sulit untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat.
"Karena pertama literasinya juga masih rendah, itu yang perlu diperhatikan. Terus juga masyarakat kita itu rentan sekali mudah diimingi uang, iya [jadi] enggak berpikir panjang mereka," jelasnya.
Sejalan dengan hadirnya fenomena tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dalam memberikan data pribadi, khususnya data biometrik retina.
"Komdigi menghimbau agar masyarakat dapat menahan diri dalam memberikan akses data pribadi berupa pemindaian retina kepada pihak ketiga yang mengiming-imingi uang atau sejenisnya, karena data tersebut merupakan data biometrik yang termasuk data sensitif," kata Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komdigi Alexander Sabar, Kamis (8/5/2025).
Alexander menegaskan pemilik data harus memahami secara jelas tujuan dari pengumpulan data sebelum memberikan persetujuan. Ia mengingatkan data biometrik seperti retina mata memiliki potensi risiko besar apabila disalahgunakan.
"Komdigi terus melakukan upaya edukasi dan literasi melalui berbagai kanal media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi data pribadi," pungkasnya.
Meski pengembang World App mengklaim bahwa data biometrik tidak disimpan setelah proses verifikasi dan hanya digunakan untuk menciptakan "proof of personhood" anonim, tetapi. banyak pihak menilai bahwa tingkat transparansi dan kontrol yang diberikan kepada pengguna masih sangat terbatas.
(ain)































