Hambatan ini, kata Garuda, juga disebut melanda hampir sebagian besar pelaku industri transportasi udara global. "Jadi langkah-langkah yang kami ambil saat ini adalah percepatan agar 15 pesawat itu bisa serviceable di tahun ini," ujar Wamildan.
Sebelumnya, Bloomberg News melaporkan, mengutip sejumlah narasumber, Garuda tengah mengandangkan sekitar 15 pesawat jet yang sebagian besar milik Citilink.
Penyebab utamanya lantaran perusahaan kesulitan membayar biaya perawatan, sekaligus menandai kemungkinan goyahnya rencana kebangkitan maskapai penerbangan pelat merah ini.
Narasumber yang enggan menyebutkan namanya karena tak berwenang bicara tersebut menambahkan beberapa pemasok untuk maskapai ini juga meminta pembayaran di muka untuk suku cadang dan tenaga kerja karena kekhawatiran akan situasi keuangan.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan seluruh penerbangan komersial berjadwal maskapai tersebut masih tetap berjalan dan beroperasi.
"Untuk penerbangan komersial Citilink saat ini masih beroperasi sesuai perizinan yang diberikan Kemenhub. Tidak ada dampak komersial," ujar Direktur Angkutan Udara Kemenhub Agustinus Budi Hartono saat dikonfirmasi, Senin (5/5/2025).
(ain)





























