Logo Bloomberg Technoz

GIAA & KRAS Dihantui Posisi Rupiah Paling Buruk dalam Sejarah

Muhammad Fikri
10 April 2026 19:20

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp17.098 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026) meningkatkan tekanan kepada emiten pelat merah yang memiliki kewajiban besar dalam dolar AS.

Di tengah harga minyak yang masih bertahan di atas US$90 per barel dan risiko fiskal domestik, pelemahan rupiah belakangan membuat utang jatuh tempo, sewa, dan biaya operasional berbasis valuta asing makin mahal.

Dua badan usaha milik negara (BUMN) terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) makin terpojok dengan level terendah rupiah dalam sejarah tersebut.


Malahan, rupiah sempat sempoyongan ke kisaran Rp17.100 per dolar dalam perdagangan intraday. Posisi psikologis itu menjadi level terlemah sepanjang masa.

Pergerakan rupiah pada Jumat (10/4/2026). (Bloomberg)

Kedua emiten milik negara itu mencatat kewajiban kepada lessor asing, kreditur internasional, vendor luar negeri, hingga pinjaman sindikasi berbasis dolar AS dalam porsi besar.