Logo Bloomberg Technoz

ESDM Curiga Harga Nikel Sulit Bangkit Gegara China

Mis Fransiska Dewi
07 May 2025 09:50

Kepingan nikel dipamerkan selama acara hari investor di Bursa Efek New York (NYSE)./Bloomberg-Michael Nagle
Kepingan nikel dipamerkan selama acara hari investor di Bursa Efek New York (NYSE)./Bloomberg-Michael Nagle

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kelesuan harga nikel pada tahun ini lebih dipicu oleh faktor pelemahan industri di China, yang selama ini menjadi pasar utama nikel Indonesia terutama untuk kebutuhan industri baja nirkarat.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China juga berkontribusi terhadap penurunan harga mineral logam andalan RI tersebut. Apalagi, nikel Indonesia rata-rata diekspor ke China.

“Memang pertumbuhan untuk industri di China itu agak turun. Nah ini mungkin bisa jadi ada korelasi juga [dengan pergerakan harga nikel],” kata Tri dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (6/5/2025).

Pergerakan harga nikel./dok. Bloomberg

Nikel sepanjang tahun lalu menyentuh rekor terendah dalam empat tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terpelanting 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.