Logo Bloomberg Technoz

Yield SUN 1Y misalnya, naik 3,1 basis poin (bps) jadi 6,349%. Pagi tadi, yield tenor ini sempat naik 9,3 bps. Sedangkan tenor 2Y naik 1 bps ke level 6,433%. Tenor 5Y juga naik 2,9 bps kini di 6,648%. Adapun tenor 10Y stabil dengan berubah sedikit 0,7 bps di 6,882%.

Terpantau, beberapa tenor SUN yang masih merangkak naik harganya adalah tenor 11Y di mana yieldnya turun 4,7 bps di 6,961%. Juga tenor 12Y dan 13Y turun imbal hasilnya masing-masing 2,9 bps dan 2,1 bps.

Dinamika di pasar surat utang domestik sejak pagi tadi sepertinya tidak terlepas dari apa yang terjadi pasar global sejak rilis data pasar kerja AS pada Jumat lalu.

Tekanan jual melanda pasar US Treasury, surat utang AS, setelah data nonfarm payroll yang mencerminkan penambahan lapangan kerja AS pada April mencatat angka lebih besar ketimbang prediksi pasar. Hal itu mencerminkan, pasar tenaga kerja negeri itu masih cukup tangguh di tengah aktivitas ekonomi yang mulai tertekan perang dagang. 

Alhasil, yield UST-2Y melompat naik 12,5 bps ke level 3,824%, juga tenor 5Y yang juga naik 11,4 bps jadi 3,918%. Sementara tenor 10Y naik 9,1 bps jadi 4,308%.

Pola pergerakan yield yang bearish steepening itu menjalar ke pasar obligasi di banyak negara, termasuk Indonesia. Selain harga SUN rupiah (INDOGB) yang tertekan, SUN valas (INDON) juga ikut tertekan. 

Jelang siang ini, yield INDON 2Y sudah naik 1,9 bps, sedangkan tenor 5Y dan 10Y naik masing-masing 2,2 bps dan 2,7 bps. Adapun INDOGB tenor pendek 2Y, yield-nya turun 0,2 bps bersama tenor 3Y yang juga turun 2,7 bps ke level 6,322% seperti ditunjukkan data Bloomberg.

Bunga acuan The Fed

Pekan ini, perhatian utama pasar adalah pada hasil pertemuan Federal Reserve (FOMC) yang akan memberikan keputusan bunga acuan, juga asesmen terbaru tentang perekonomian AS di tengah ketidakpastian yang masih besar seputar kebijakan tarif Trump.

Konsensus pasar yang dihimpun oleh Bloomberg sejauh ini memperkirakan FFR masih akan kembali ditahan di level sekarang, 4,25%-4,50%.

FOMC bulan ini menjadi event yang sangat menarik karena digelar dengan latar belakang situasi perekonomian global yang telah banyak menghadapi berbagai turbulensi dan kontroversi terutama seputar perang tarif.

Jerome Powell dan kolega menghadapi ketidakpastian soal kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang mungkin akan menyulitkannya memproyeksi trajectory perekonomian, juga kebijakan bunga acuan ke depan.

Di sisi lain, pasar sempat berekspektasi akan ada empat kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini yang dengan mudah berubah jadi tiga kali ketika mendapati beberapa data masih menunjukkan ancaman inflasi tinggi juga ketahanan pasar kerja.

(rui)

No more pages