Logo Bloomberg Technoz

IPC merupakan organisasi antar pemerintah di sektor lada yang beranggotakan tujuh negara utama penghasil lada.

"Kami harap, kepemimpinan baru ini akan semakin membawa semangat inovasi dan diversifikasi pasar untuk memperluas jangkauan lada di pasar dunia," ujarnya.

Sekadar catatan, Indonesia saat ini merupakan produsen lada terbesar ketiga di dunia, dengan luas lahan mencapai 163 ribu hektare (ha). Nilai ekspor lada pada 2024 tercatat lebih dari US$311 juta (sekitar Rp5,15 miliar), meningkat 105,80% dibanding tahun sebelumnya. Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan besar, termasuk turunnya produktivitas akibat pohon tua, serangan penyakit, dan keterbatasan fasilitas pengolahan.

Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag Natan Kambuno, menguraikan strategi penguatan industri lada agar tetap kompetitif di pasar global.

“Pemerintah Indonesia mendorong beberapa strategi pengembangan, antara lain, intensifikasi tanaman, pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas, peningkatan produk bernilai tambah, hingga penguatan promosi internasional," jelas Natan.

Di sisi lain, rencana penerapan tarif impor baru oleh Amerika Serikat terhadap produk lada turut menjadi perhatian. Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif IPC 2021-2025, Firna, yang menilai kebijakan tersebut tidak relevan karena AS bukan negara produsen lada.

"Tingginya impor lada hitam bukan disebabkan alih produksi, melainkan karena tanaman ini tidak dapat tumbuh di wilayah AS. Lada tidak mengambil lapangan kerja petani AS," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IPC 2025-2028, Marina, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersatu dan berdiskusi demi menemukan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi industri lada saat ini. "Upaya ini dijalankan untuk sekaligus mendorong perdagangan lada yang berkelanjutan, inovatif, dan inklusif," pungkasnya.

(ell)

No more pages