Di pasar surat utang negara, pergerakan harga obligasi pemerintah bervariasi. Tenor 2Y naik 0,5 bps imbal hasilnya. Sementara tenor 5Y juga naik 1,5 bps yield-nya. Namun beberapa tenor lain seperti 11Y juga 18Y terlihat turun imbal hasilnya. Tenor acuan 10Y naik tipis 0,1 bps ke level 6,890%.
Secara teknikal nilai rupiah telah menembus resistance terdekat di Rp16.740/US$, dan selanjutnya menuju Rp16.710/US$.
Level resistance selanjutnya menarik dicermati di Rp16.650/US$, yang saat ini makin mendekati resistance psikologis potensial.
Rupiah terkonfirmasi memiliki resistance kuat di Rp16.600/US$, yang tercermin dari time frame daily dengan keberhasilan break resistance pertama sebelumnya.
Adapun level support rupiah ada di Rp16.800/US$ dari posisi saat ini, dengan kisaran support antara Rp16.900/US$ sampai dengan Rp17.000/US$.
Sentimen pasar global cenderung lebih positif meski data ekonomi AS yang dilansir tadi malam menunjukkan keyakinan konsumen di perekonomian terbesar dunia itu jatuh ke level terendah dalam lima tahun.
Indeks saham di Wall Street ditutup hijau dilatari keyakinan bahwa meskipun gejolak tarif Trump tidak menunjukkan tanda-tanda mereda dan dampak ekonominya mungkin akan semakin terasa ke depan, momentum awal kenaikan pasar sudah terjadi saat ini sehingga mendorong sentimen risk-on.
Selain itu, ada ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan memangkas bunga acuan untuk mencegah negeri itu jatuh dalam resesi.
Hari ini Kementerian Keuangan RI dijadwalkan menggelar konferensi pers untuk memaparkan kinerja fiskal terakhir setelah publikasi terakhir dilangsungkan dua bulan silam.
Salah satu yang akan menjadi sorotan para pelaku pasar adalah kemajuan penerimaan negara terutama penerimaan pajak.
Pada Maret lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penerimaan pajak mencapai Rp134,8 triliun, meningkat dibandingkan dengan realisasi sebesar Rp98,9 triliun pada Februari 2025.
(rui)





























