Apabila kembali break kedua support tersebut dalam sepekan perdagangan ke depan, rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp17.000/US$ sebagai support terkuatnya.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada level di range Rp16.770/US$ dan selanjutnya Rp16.750/US$ hingga Rp16.700/US$ potensialnya.
Pelemahan rupiah pagi ini juga terjadi ketika reli indeks saham domestik masih berlanjut. IHSG dibuka menguat 0,3% kendati pemodal asing membukukan nilai jual bersih hampir Rp5 triliun dalam dua hari terakhir.
Di pasar surat utang, pergerakan harga SUN masih positif di mana tenor 10Y turun imbal hasilnya sebesar 0,4 bps pagi ini kini di 6,963%. Lalu tenor 13Y bahkan terpangkas yield-nya 6,3 bps di 7,185%.
Namun tenor pendek 1Y dan 2Y masih naik 0,5 bps dan 0,2 bps pagi ini.
Hari ini, pasar akan mencermati juga laporan survei penjualan eceran yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia. Laporan itu akan memberi gambaran seberapa besar dampak kelesuan daya beli terhadap laju penjualan ritel ketika puncak musim perayaan Idulfitri bulan lalu.
Di pasar saham, kendatipun IHSG kemarin ditutup menguat lebih dari 1%, pemodal asing masih melanjutkan aksi jual dengan nilai yang semakin besar, mencapai Rp2,47 triliun.
Nilai net sell asing kemarin menambah total penjualan saham pekan ini sebesar US$ 285 juta, sekitar Rp4,79 triliun.
Adapun di pasar surat utang negara, pada perdagangan Senin kemarin seperti data terakhir yang dilansir oleh Kementerian Keuangan, asing mencatat penjualan sekitar Rp430 miliar.
Hari ini, Pemerintah RI juga akan menutup masa pemesanan SBN ritel seri Sukuk Tabungan ST014.
Pada Rabu ini, kalender ekonomi investor global juga akan mencermati beberapa agenda penting. Sejumlah data penting dirilis oleh Tiongkok, mulai dari kinerja pertumbuhan ekonomi Tiongkok kuartal 1-2025, disusul rilis data harga properti, penjualan ritel serta produksi industri.
(rui)




























