Logo Bloomberg Technoz

IHSG menjadi banyak dari sekian Bursa Asia yang menghijau sepanjang hari, Straits Times (Singapura), SENSEX (India), TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), KOSPI (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Tokyo), PSEI (Filipina), KLCI (Malaysia), Hang Seng (Hong Kong), Shanghai Composite (China), dan CSI 300 (China) yang berhasil menguat masing-masing 2,14%, 2,10%, 1,77%, 1%, 0,88%, 0,84%, 0,66%, 0,38%, 0,23%, 0,15%, dan 0,06%.

Sementara Bursa Saham Asia lainnya masih ada di zona merah i.a Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), SETI (Thailand), dan Shenzhen Comp. (China) yang terpangkas masing-masing 1,10%, 0,47%, dan 0,19%.

Jadi, IHSG adalah indeks dengan penguatan tertinggi ke-empat di Asia, setelah Bursa Saham Taiwan.

TW Weighted Index Bursa Saham Taiwan (Bloomberg)

Bursa Asia mengikuti apa yang terjadi di Wall Street. Dini hari tadi waktu Indonesia, Bursa Saham New York kompak melaju di zona hijau.

Indeks S&P 500 melesat 0,79% dan Nasdaq Composite menguat. Sementara, Dow Jones Industrial Average (DJIA) menghijau dengan kenaikan 0,78%.

Salah satu sentimen yang menyuasanai penguatan datang dari sinyal Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kelonggaran tarif untuk barang elektronik konsumen.

“Memasuki awal pekan ini, para pelaku pasar kembali fokus pada lini masa media sosial dan pemberitaan untuk mengikuti kelanjutan drama 'tarif diberlakukan, lalu dicabut',” papar Jay Woods dari Freedom Capital Markets.

“Satu hal yang pasti dari Pemerintahan saat ini adalah mereka pandai membuat pelaku pasar tetap waspada.”

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan tengah mempertimbangkan pemberian pengecualian sementara terhadap tarif impor kendaraan dan suku cadang, seperti yang diwartakan Bloomberg News.

Pernyataan ini berpotensi memberi angin segar bagi para produsen mobil yang selama ini tertekan oleh tarif impor kendaraan dan truk ringan yang diberlakukan Trump. Namun di sisi lain, hal ini juga menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan perdagangannya.

Investor masih kesulitan memperkirakan dampak ekonomi dari perang dagang, di tengah tarik-ulur dalam proses negosiasi. Di samping Pejabat AS menegaskan strategi tarif dirancang dengan matang, para kritikus menilai kebijakan tersebut lebih dipengaruhi oleh keputusan transaksional Trump.

Pada bagian lain, Gubernur Federal Reserve Christopher Walker mengatakan, dampak inflasi dari perang dagang sifatnya akan sementara dengan pemotongan bunga acuan sangat mungkin terjadi pada Semester II-2025. 

(fad/wep)

No more pages