"Tidak semua produk minyak sawit dapat digantikan dengan minyak nabati lain, contoh margarin ini tidak bisa dibuat dari minyak kedelai karena secara kesehatan justru dilarang karena dapat menyebabkan kanker kalau dibuat dari minyak kedelai," ujarnya.
Eddy mengatakan strategi yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menghadapi tarif Trump adalah penurunan beban di dalam negeri seperti Domestic Market Obligation, Pungutan Ekspor dan Bea Keluar. Eddy mengakan beban ketiga kewajiban itu saat ini sudah mencapai US$249/ton. Angka ini meningkat dari posisi US$138/ton pada Agustus 2024.
Selain itu, eksportir tentu harus mencari alternatif pasar yang lain. "Penurunan beban supaya kita tidak kalah bersaing dengan negara lain. Sebab, AS bisa impor selain dari Malaysia juga dari Amerika Latin walaupun volumenya tidak besar," ujarnya.
Pemerintah AS di bawah komando Presiden Donald Trump resmi mengesahkan tarif bea masuk baru yang bersifat resiprokal. Artinya, semakin tinggi surplus perdagangan yang dinikmati suatu negara terhadap Negeri Paman Sam akan dikenakan tarif lebih tinggi.
Dengan tarif baru ini, minimal bea masuk yang harus dibayar untuk suatu produk masuk ke AS adalah 10%. Seluruh negara akan merasakannya, mulai dari Asia, Eropa, hingga Afrika. Tidak pandang bulu.
"Selama bertahun-tahun, rakyat Amerika yang bekerja keras hanya bisa menyaksikan negara-negara lain menjadi kaya dan berkuasa, sebagian besar dengan mengorbankan kita. Sekarang giliran kita untuk makmur," tegas Trump dalam acara di Rose Garden, Gedung Putih, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Tarif bea masuk baru akan berlaku terhadap sekitar 60 negara. Tarif baru akan berlaku mulai akhir pekan ini.
Indonesia menjadi salah satu negara yang diganjar tarif bea masuk baru. Dalam skema ini, tarif terhadap produk made in Indonesia adalah 32%.
(dov/spt)




























