Logo Bloomberg Technoz

Saat ini, Korsel menghadapi masalah serius akibat rendahnya angka kelahiran. Populasi yang menua dengan cepat menimbulkan kekhawatiran tentang beban dana pensiun dan biaya perawatan kesehatan di masa depan. Selain itu, jumlah tenaga kerja yang terus berkurang juga menambah tantangan besar bagi perekonomian negara, terutama dalam persaingan dengan China dan negara lain di sektor manufaktur serta teknologi.

Pada tahun lalu, rata-rata jumlah anak yang diharapkan lahir dari setiap wanita selama hidupnya hanya 0,75. Meskipun naik sedikit dari 0,72 pada tahun 2023, angka ini tetap yang terendah di dunia. Di kota besar seperti Seoul, memiliki tingkat kesuburan terendah, hanya 0,58.

Beberapa faktor utama yang membuat masyarakat enggan memiliki anak adalah biaya hidup yang tinggi dan kurangnya harga rumah yang terjangkau. Banyak orang tua juga khawatir dengan dampak negatif setelah kembali bekerja dari cuti mengasuh anak. Mereka juga menghadapi biaya pendidikan yang secara proporsional termasuk yang tertinggi di negara maju.

Di Korsel, pernikahan dan kelahiran masih sangat berkaitan erat, karena kelahiran di luar nikah jarang terjadi. Rata-rata pria menikah untuk pertama kali di usia 33,9 tahun, sedangkan wanita di usia 31,6 tahun, menurut data tersebut. Penelitian demografi menunjukkan bahwa pasangan yang menikah lebih muda cenderung memiliki lebih banyak anak.

(bbn)

No more pages