Logo Bloomberg Technoz

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan surplus perdagangan US$1,76 miliar pada Januari 2025. Ekspor Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,99% (yoy), tetapi turun 7,42% (mtm).

Sementara, pertumbuhan impor tahunan Indonesia diproyeksikan mencapai 7,92% (yoy) pada Januari 2025 dan terkontraksi 5,85% (mtm).

"Surplus perdagangan Januari 2025 diperkirakan akan menyusut lebih lanjut, didorong oleh normalisasi harga komoditas, meningkatnya kekhawatiran perang dagang, dan pelemahan ekonomi global," ujar Josua.

Josua memaparkan Baltic Dry Index menunjukkan tren penurunan yang signifikan pada Januari 2025, yang mengindikasikan perlambatan perdagangan global dan berkurangnya permintaan untuk pengiriman bahan baku. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai risiko perang dagang 2.0 dan perlambatan global.

Terakhir, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalia Situmorang memproyeksikan ekspor tumbuh 6,35% (yoy) dan impor naik 8,1% (yoy). Sehingga, neraca perdagangan diproyeksikan surplus US$1,78 miliar pada Januari 2025.

"Purchasing Managers' Index naik ke 51,9 pada Januari 2025 dari 51,2, mencerminkan ekspansi manufaktur yang mendorong impor bahan baku. Sementara ekspor tumbuh didukung kenaikan harga CPO meski batu bara dan baja tertekan," ujar Hosianna.

Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg hingga Jumat (14/2/2025) siang dengan melibatkan 10 institusi menghasilkan median proyeksi ekspor tumbuh 8,3% (yoy) pada Januari 2025.

Jika terwujud, maka akan jauh lebih baik ketimbang pencapaian Desember 2024 yang tumbuh 4,78% yoy. Pertumbuhan ekspor pada saat itu adalah yang terendah sejak Juni 2024 atau 6 bulan.

Meski ekspor tumbuh membaik, tetapi rasanya belum bisa secepat impor. Konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi pertumbuhan impor pada Januari sebesar 10,07% (yoy).

Jika terwujud, maka terjadi perlambatan dibandingkan Desember 2024. Pada bulan pamungkas 2024, impor tumbuh 11,07%.

Impor yang tumbuh lebih cepat ketimbang ekspor kemudian mempengaruhi neraca perdagangan. Konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi neraca perdagangan Januari sebesar US$1,86 miliar. Jika terwujud, maka lebih sedikit ketimbang surplus Desember 2024 yang sebanyak US$2,24 miliar. Bahkan angka US$1,86 miliar, kalau terjadi, akan menjadi yang terendah sejak Februari tahun lalu atau hampir setahun terakhir.

(lav)

No more pages