Logo Bloomberg Technoz

Dari segi sebaran lokasi toko UMKM di platform dagang-el, Jawa masih menghegemoni dengan porsi sebesar 92,7%. Hal ini, kata Omar, merefleksikan eksposur usaha kecil di Tanah Air terhadap digitalisasi masih terus tersentral di wilayah dengan biaya dan infrastrutur logistik serta jaringan internet yang sudah matang. 

“Pertanyaan selanjutnya, ketika UMKM sudah mendominasi toko-toko di e-commerce, bagaimana dengan produk yang mereka jual? Apakah produk lokal buatan UMKM sendiri atau jangan-jangan produk dari brand besar atau malah produk impor?” lanjutnya.

Berdasarkan riset yang sama, Indef menemukan fakta bahwa proporsi penjualan untuk produk UMKM lokal di platform lokapasar ternyata hanya mencapai 3,8% dari total produk yang dijual di toko skala mikro, kecil, dan menengah. 

“Artinya, walaupun tokonya didominasi UMKM, barang yang diperjualbelikan dikuasai oleh merek besar atau barang impor. Tidak ada proses added value atau mengembangkan dari bahan dasar menjadi produk bernilai tambah di sini,” ujar Omar. 

Dari sisi kategori, penetrasi produk UMKM lokal tertinggi di platform dagang-el adalah pakaian wanita atau garmen dengan porsi 18,9% dari total barang beredar di lokapasar, rumah tangga 6,4%, hobi dan koleksi 3,6%, perawatan dan kecantikan 2%, serta elektronnik 0,3%. 

Menurut Omar, berdasarkan perbandingan rasio indeks pentrasi produk dan nilai penjualan, produk dari kategori perawatan dan kecantikan tercatat memiliki nilai pasar tertinggi tetapi dengan jumlah produksi dari UMKM sangat rendah. 

“Tingkat kesulitan dan besarnya modal dalam memasuki industri ini memengaruhi tingkat penetrasi produk buatan UMKM. Dengan demikian, ke depan, pemerintah perlu memetakan UMKM sektor apa yang potensial untuk di-push ke e-commerce dan bisa merajai pasar domestik. Dalam hal ini, kebijakan berbasis data sangat diperlukan untuk melakukan analisis dan monitorig demi mencapai tujuan bersama, yaitu; UMKM menjadi raja di marketplace Indonesia,” tegasnya. 

Ilustrasi transaksi digital (Dimas Ardian/Bloomberg)

Target Digitalisasi

Pada perkembangan lain, pemerintah menargetkan tambahan sekurangnya 30 juta UMKM telah terdigitalisasi atau masuk ke ekosistem daring pada 2024.

Menurut rekapitulasi Kementerian Perdagangan, hingga akhir 2022, baru sekitar 32% dari total 64 juta UMKM di Indonesia yang telah memanfaatkan platform dagang-el untuk meningkatkan produktivitas bisnis mereka. 

“Terdapat 64 juta UMKM, atau setara dengan 99% dari total pelaku usaha di Indonesia. Kontribusi UMKM ke [produk domestik bruto] PDB [pada 2022] mencapai 61% dengan serapan tenaga kerja sebanyak 97%. Namun, baru 32% UMKM yang sudah memanfaatkan e-commerce untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Sekretaris Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag Hari Widodo, di sela acara Gambir Trade Talk, Senin (20/3/2023).

Untuk mencapai target digitalisasi UMKM, lanjutnya, otoritas perdagangan telah dan akan memacu pembinaan dan pendampingan; bantuan fasilitasi; serta pencetakan fasilitator guna menigkatkan edukasi digtal bagi UMKM.

“Kami juga telah melakukan kerja sama dengan ritel modern dan akses pembiayaan,” lanjutnya. 

Google Temasek dan Bain & Co. pada 2022 yang mencatat kontribusi sektor dagang-el di Indonesia menembus US$ 59 miliar atau setara  76%  nilai penerimaan negara dari sektor ekonomi digital. Bahkan, kontribusi tersebut diestimasikan melesat ke level US$ 130 miliar pada 2025 dan US$ 300 miliar pada 2030.

Adapun, Kemendag mencatat selama 2022 nilai transaksi niaga secara daring di Indonesia mencapai Rp 476,3 triliun, naik 18,7% dibandingkkan dengan tahun sebelumnya, dengan akumulasi volume transaksi sebanyak 3,48 juta kali.

“Hingga 2022, jumlah UMKM yang telah terdigitalisasi mencapai 20.997.131 unit dan mengalami peningkatan 17% dari tahun sebelumnya,” kata Wakil Menteri Perdagangan, belum lama ini.

(wdh)

No more pages