Logo Bloomberg Technoz

Qin yang sebelumnya pernah menjadi duta besar untuk AS itu menyalahkan Washington atas berbagai masalah geopolitik dan ekonomi dunia saat ini. Dia mengatakan AS telah menciptakan persoalan di Taiwan. Selain itu dia juga mengkritik penggunaan sanksi dalam perang Rusia di Ukraina dan mengatakan bahwa kenaikan suku bunga Federal Reserve menyebabkan arus keluar modal yang memperburuk masalah utang di beberapa negara.

Qin lebih jauh menyinggung pada strategi Indo-Pasifik AS yang menurut dia dimaksudkan untuk mengepung China.

“Strategi Indo-Pasifik AS yang konon bertujuan untuk menegakkan kebebasan dan keterbukaan, menjaga keamanan dan meningkatkan kemakmuran di kawasan, sebenarnya adalah upaya untuk bersatu membentuk blok eksklusif untuk memprovokasi konfrontasi dengan merencanakan NATO versi Asia-Pasifik,” kata Qin.

“Perang Dingin tidak boleh dihidupkan kembali dan tidak ada krisis seperti Ukraina yang harus terjadi di Asia,” ucap dia.

Joe Biden dan Xi Jinping saat keduanya sama-sama menjabat sebagai Wakil Presiden bertemu di Gedung Putih, 2012 silam (Bloomberg)

Diketahui hubungan kedua negara memanas belakangan ini. Pada November 2022, Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping bertemu pada KTT G-20 di Bali yang membawa harapan perbaikan hubungan kedua negara. Namun Febuari lalu terjadi insiden balon mata-mata China di AS yang membuat runyam meski China mengatakan balon itu bukan balon pengintai melainkan alat pendeteksi cuaca yang terbang keluar jalur.

Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken saat bertemu dengan penasihat negara China Wang Yi di Jerman bulan lalu pun saling tuduh mengenai berbagai masalah termasuk soal Taiwan, Korea Utara, dan potensi dukungan China untuk perang Rusia di Ukraina.

AS di saat yang sama, telah meningkatkan upaya untuk membatasi teknologi canggih China. Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan tahun lalu mengatakan AS ingin mempertahankan keunggulan dari pesaing dalam teknologi tertentu seperti cip.

Qin juga menyinggung masalah lainnya yang berkembang saat ini.

Ukraina-Rusia

Qin memuji kemitraan China dengan Rusia dan mengatakan hubungan itu akan menjadi semakin penting saat dunia menjadi lebih tidak stabil.

“China dan Rusia telah menemukan jalur hubungan yang menampilkan kepercayaan strategis dan ketetanggaan yang baik,” kata Qin.

Namun Qin mengkritik "mentalitas Perang Dingin" negara-negara lain yang melihatnya hubungan China dan Rusia sebagai ancaman. Meski begitu, Qin tidak menjawab saat ditanya apakah Xi berencana mengunjungi Moskow, seperti yang dilaporkan media Rusia.

Dia juga membalas tuduhan AS bahwa perusahaan China telah menyediakan barang dengan penggunaan ganda, yaitu untuk militer dan sipil, ke Rusia dan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan memberi bantuan militer ke Moskow.

“Antara mengipasi api dan menurunkan suhu, kami memilih yang terakhir,” kata Qin.

“China tidak menciptakan krisis dan tidak memberikan senjata ke kedua sisi konflik, jadi mengapa memberi sanksi dan ancaman terhadap China? Ini benar-benar tidak dapat diterima,” ujar dia.

Taiwan

Qin mengulangi pentingnya Taiwan bagi China: “Tidak seorang pun boleh meremehkan tekad yang kuat, kemauan yang kuat, dan kemampuan besar dari pemerintah dan rakyat China untuk menjaga kedaulatan nasional dan integritas teritorialnya,” kata dia.

Militer Taiwan (Sumber: Bloomberg)

Dia kemudian menghubungkan secara langsung tindakan AS terhadap Taiwan dengan perang Rusia di Ukraina.

“Mengapa AS berbicara tentang menghormati kedaulatan dan integritas teritorial di Ukraina, sementara tidak menghormati kedaulatan China di Taiwan,” kata Qin.

Ketegangan antara China dan AS di Taiwan melonjak tahun lalu ketika China meluncurkan latihan militer di sekitar pulau itu setelah kunjungan Ketua DPR AS saat itu Nancy Pelosi. Pejabat militer AS mengatakan Xi ingin militernya untuk memiliki kesiapan mengambil alih Taiwan pada 2027.

Federal Reserve dan Krisis Utang

Qin juga merespons tentang bantuan China ke negara-negara miskin yang berjuang dengan utang menyusul pemberian pinjaman besar ke negara-negara seperti Sri Lanka dan Pakistan sebagai bagian dari Belt and Road Initiative.

“China harus menjadi pihak terakhir yang dituduh melakukan jebakan utang,” katanya, seraya menambahkan bahwa Beijing telah berusaha membantu negara-negara yang mengalami krisis.

Selanjutnya, Qin menyinggung kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve yang menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi.

"Kenaikan bunga oleh AS telah menyebabkan arus modal keluar besar-besaran dan memperburuk masalah utang di negara-negara yang bersangkutan," katanya.

Hubungan China-Eropa

Qin mengatakan China memandang Uni Eropa sebagai “mitra strategis yang komprehensif” dan hubungannya dengan blok tersebut tidak ditujukan untuk AS atau negara lain.

Hubungan itu retak di bawah tekanan perang Rusia di Ukraina, keraguan tentang teknologi China, dan masalah hak asasi manusia. Seruan China untuk gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina pun tidak sejalan dengan Eropa, di mana para pemimpin termasuk menteri luar negeri Belanda dan kanselir Jerman secara terpisah memperingatkan China pekan lalu agar tidak mengirim senjata ke Rusia.

Eropa juga semakin melihat China sebagai pesaing strategis yang harus dicegah dari ambisinya sendiri untuk menguasai Taiwan, yang membuat Beijing lebih rentan terhadap kontrol ekspor multilateral, pembatasan investasi, dan tindakan lainnya dari negara lain yang dapat menghambat prospek pertumbuhan jangka panjangnya.

Kesepakatan investasi penting antara Eropa dan China dibekukan pada tahun 2021 setelah China membalas sanksi Barat atas praktik hak asasi manusia di wilayah Xinjiang dengan mengumumkan tindakan terhadap 10 individu dan empat entitas dari Eropa.

--Dengan asistensi Li Liu, Colum Murphy, James Mayger, dan Tom Hancock.

(bbn)

No more pages