Keseluruhan sector saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah sector barang baku yang turun mencapai 4,05%. Kemudian saham infrastruktur, dan saham energi melemah 2,95%, dan 2,81%.
IHSG dan Bursa Asia terjerembab senada dengan yang terjadi Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, indeks Nasdaq Composite drop 5,52%, S&P 500 jatuh 4,36%, dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) minus 3,44%.
Turun tajam Bursa Saham ditekan aksi jual perusahaan-perusahaan teknologi di Wall Street setelah Pemilu midterm elections, Kekhawatiran memuncak selepas Partai Demokrat bakal mendorong regulasi yang lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, awalnya, investor bertaruh kemenangan besar Partai Demokrat dalam Pemilu Sela di AS dan penguasaan Kongres akan mempercepat tamatnya perang vs. Iran. Namun, pada saat yang sama, kecemasan pasar meningkat terhadap kemungkinan regulasi yang lebih ketat bagi industri data center.
Terlebih lagi, dari sisi ekonomi, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan Klaim Awal Tunjangan pengangguran mingguan turun di bawah seluruh estimasi analis. Pada Jumat, investor akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga.
Gubernur Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan, suku bunga perlu dipertahankan pada level ketat untuk menyeret inflasi ke target Bank Sentral. Ia juga menilai penyesuaian kebijakan yang lebih sering dapat mengurangi risiko Bank Sentral tertinggal dalam merespons perkembangan ekonomi.
Efek langsungnya harga obligasi pemerintah (US Treasury) dan dolar AS menguat seiring investor beralih ke aset-aset yang dianggap aman. Imbal hasil obligasi US Treasury bertenor dua tahun turun 12 basis poin menjadi 4,46%.
“Investor terus mencermati kemenangan telak Partai Demokrat dalam Pemilihan Umum midterm election AS serta implikasinya terhadap pasar dan perekonomian,” tulis riset Phillip Sekuritas Indonesia.
Di tengah kelegaan karena ketidakpastian pemilu telah usai, investor masih memilah pihak-pihak yang dianggap sebagai pemenang maupun pihak yang dirugikan akibat perubahan kekuasaan di Gedung parlemen AS (Capitol Hill).
Investor institusi melepas saham-saham berkinerja terbaik di tahun 2026 untuk mengunci keuntungan (profit taking). Sementara para investor ritel pun mengikuti langkah tersebut dengan menjual saham senilai US$358 juta, yang menjadi aksi jual terbesar mereka sejak tahun 2020, analisis Phillip, di tengah ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah dan kecemasan akan inflasi yang berkepanjangan telah membuat suku bunga tetap tinggi.
(fad)





























