Pada hari yang sama, Hegseth mengunggah video berdurasi enam menit di platform X untuk membela kinerjanya. Ia menyebut Massie, yang ia gambarkan sebagai anggota kongres yang kecewa dan kalah, telah mengajukan “pasal-pasal pemakzulan palsu terhadap dirinya
Massie, yang kalah dalam pemilihan pendahuluan setelah Trump mendukung kandidat lawan, menyarankan pada hari Kamis agar Trump segera memecat Hegseth. Dengan demikian, Senat yang masih dikuasai Partai Republik dapat mengonfirmasi penggantinya. Proses konfirmasi akan menjadi jauh lebih sulit setelah Partai Demokrat mengambil alih kendali pada bulan Januari.
“Resolusi pemakzulan Hegseth yang saya ajukan hanyalah versi yang jauh lebih ringan dibandingkan apa yang akan terjadi saat Partai Demokrat menguasai Kongres. Mereka akan menggelar dengar pendapat dan persidangan,” tulis Massie dalam sebuah unggahan media sosial pada hari Kamis.
Jika DPR meloloskan pemakzulan, Senat akan dipaksa untuk segera memulai persidangan yang memakan waktu, kecuali jika Partai Republik berhasil mengumpulkan cukup suara untuk mengesampingkan masalah tersebut.
Pemungutan suara semacam itu akan memaksa para anggota parlemen untuk secara resmi menyatakan dukungan mereka kepada sang menteri, tepat setelah para pemilih memberikan teguran keras kepada Partai Republik terkait perang Iran yang tidak populer.
Upaya Massie untuk memakzulkan Hegseth diperkirakan akan mendapatkan dukungan luas dari Partai Demokrat, dan mungkin cukup dukungan dari Partai Republik untuk meloloskannya.
Anggota Partai Republik yang kalah dalam pemilihan minggu ini mungkin tidak memiliki motivasi untuk kembali ke Washington selama masa transisi (lame duck session), yang justru akan meningkatkan selisih suara dari anggota yang mendukung pemakzulan tersebut.
Sejak dicalonkan oleh Trump, Hegseth, mantan anggota Garda Nasional sekaligus pembawa acara Fox News, telah menjadi sasaran kritik tajam. Para anggota parlemen berpendapat bahwa ia tidak memiliki kualifikasi maupun kecakapan untuk memimpin militer paling kuat di dunia. Hegseth akhirnya dikonfirmasi dengan selisih suara tipis, dan Trump secara konsisten terus memberikan dukungan terbuka kepadanya.
Namun, perannya yang menonjol sebagai anggota kabinet utama yang bertanggung jawab atas perang di Iran kini membuatnya berada dalam posisi rentan, mengingat konflik tersebut telah menghancurkan perolehan suara Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu.
Selain itu, Hegseth hanya memiliki sedikit sekutu. Selama perang berlangsung, hubungannya dengan Kongres memburuk menyusul serangkaian dengar pendapat yang penuh konfrontasi, serta tuduhan bahwa ia menolak untuk berbagi informasi dengan komite pengawas—termasuk mengenai biaya konflik tersebut.
(bbn)






























