Data dari lembaga konsultan lokal, Oilchem, menunjukkan stok komersial diesel telah anjlok menjadi 11,1 juta metrik ton (83 juta barel) per akhir Oktober—level terendah sejak lembaga tersebut mulai mencatat data pada 2011.
Ekspor bahan bakar dari China—pemasok utama yang berperan penting dalam menyeimbangkan pasokan di Asia—menunjukkan volatilitas sejak konflik AS, Israel, dan Iran pecah pada Februari.
China sempat menerapkan pembatasan demi memprioritaskan pasokan dalam negeri, dengan mewajibkan kilang-kilang mendapat persetujuan setiap bulan sebelum melakukan penjualan.
Namun, menurut para analis, sejak China mulai melonggarkan kontrol ekspor pada Juli, volume ekspor diesel melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun—mencapai 1,33 juta metrik ton pada Agustus dan 1,8 juta metrik ton pada September—menyebabkan persediaan domestik menipis.
Menurut Oilchem, harga grosir diesel di pusat penyulingan Provinsi Shandong melonjak hingga lebih dari 10.000 yuan per metrik ton, harga tertinggi sejak 2018.
China sebelumnya diperkirakan akan meningkatkan ekspor pada dua bulan terakhir 2026, setelah Beijing memutuskan untuk mengeluarkan kuota ekspor tahap keempat—yang jarang terjadi—bagi bensin, diesel, dan bahan bakar jet.
Kebijakan ini menjadikan total kuota tahunan mencapai 42 juta metrik ton, atau 6% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Data bea cukai menunjukkan, sepanjang Januari hingga September, China telah mengekspor lebih dari 23 juta metrik ton tiga jenis bahan bakar tersebut. Pada 2025, China mencatat rata-rata ekspor gabungan bensin, diesel, dan bahan bakar jet sebesar 3 juta metrik ton per bulan.
Secara terpisah, menurut estimasi sejumlah trader, volume ekspor bensin pada November diperkirakan di bawah 1 juta metrik ton. Sebab, pihak kilang mulai menahan penjualan setelah margin keuntungan bensin di Asia merosot hampir US$20 sejak akhir Oktober, hingga ke level di bawah US$7 per barel—angka terendah sejak Februari.
(ros)




























