Sementara itu, Prasasti juga mengingatkan bahwa Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin menjadi 5,75% sepanjang tahun ini.
Anggota Board of Advisors Prasasti sekaligus Gubernur BI 2003–2008, Burhanuddin Abdullah menyebut saat ini fungsi suku bunga telah bergeser.
"Suku bunga bukan lagi sekadar alat pendorong pertumbuhan, melainkan jangkar kepercayaan. Pelonggaran yang terlalu dini bisa memicu tekanan pada rupiah, dan ongkosnya bagi pertumbuhan justru lebih mahal," kata Burhanudin.
Kuartal III Masih di atas 5%
Meski demikian, riset Prasasti tersebut memproyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 masih berada di kisaran 5,2% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Sementara, sepanjang 2026, pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 5,2%–5,4%, dengan batas atas setara target APBN sebesar 5,4%.
Dari sisi pembentuknya, pertumbuhan di atas 5% terutama ditopang konsumsi rumah tangga, penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB), yang masih bertahan meski kehilangan momentum.
“Penjualan eceran riil kembali tumbuh 1,3% setelah terkontraksi pada kuartal II, tetapi pertumbuhan transaksi kartu dan uang elektronik melambat dan keyakinan konsumen turun, meski masih di zona optimistis,” kata riset tersebut.
Pembedanya, menurut Prasasti adalah pada kuartal III ekspor sektor manufaktur mulai pulih dan berpotensi menahan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
PMI Manufaktur Indonesia memang sudah naik dari 52,4 pada September menjadi 54,0 pada Oktober 2026, tertinggi sejak Maret 2024, dengan pesanan ekspor baru tumbuh tercepat sejak survei dimulai pada 2011.
Namun, Prasasti mewanti-wanti bahwa survei yang sama mencatat biaya input naik lebih cepat akibat harga bahan bakar, sementara penyerapan tenaga kerja melambat.
Sementara itu, ekspor industri pengolahan naik 16,78% YoY pada September. Sepanjang kuartal III, kenaikan ekspor manufaktur terutama berasal dari produk turunan sawit dan elektronik.
Kendati demikian, fondasi tersebut belum kokoh. Meski Investor asing mulai masuk ke manufaktur, tetapi investor domestik masih menahan diri dengan realisasi investasi dalam negeri turun 7,5%.
Prasasti menilai, selama investasi domestik belum pulih, pemulihan manufaktur bergantung pada permintaan ekspor yang rentan terhadap perlambatan ekonomi dunia.
(ell)




























