Logo Bloomberg Technoz

Pernyataan tersebut menimbulkan keraguan terhadap laporan sebelumnya yang belum terkonfirmasi mengenai kemajuan perundingan, yang sempat mendorong harga minyak turun. Perkembangan ini menjadi contoh terbaru bagaimana pemberitaan yang berubah-ubah membuat pasar bergerak tajam dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Bloomberg sebelumnya melaporkan pada Selasa bahwa kedua pihak tengah meninjau proposal terbaru dari para mediator untuk menjembatani perbedaan di antara mereka dan mencegah pecahnya kembali perang skala penuh. Laporan tersebut mengutip seorang diplomat yang mengetahui persoalan itu.

"Berita-berita yang saling bertentangan membuat harga bergerak liar pagi ini, dan para pedagang tampaknya enggan membeli saat harga turun di tengah situasi yang kacau," kata Rebecca Babin, senior energy trader di CIBC Private Wealth Group.

"Kami memperkirakan tarik-ulur ini akan berlanjut, dengan arus transaksi teknikal memperbesar fluktuasi harga."

Ketidakpastian tersebut memicu aktivitas perdagangan yang semakin intens, sehingga sejumlah indikator volatilitas pasar minyak mencapai level tertinggi sejak akhir Juli.

Harga minyak juga menjadi sorotan pada Selasa ketika para pemilih AS menuju tempat pemungutan suara untuk pemilihan paruh waktu (midterm elections), sementara harga bensin di tingkat konsumen masih berada di atas ambang psikologis US$4 per galon.

Presiden Donald Trump dan Partai Republik menghadapi tekanan politik yang semakin besar akibat kenaikan harga energi yang dipicu perang.

Sebelumnya pada hari itu, harga minyak sempat naik lebih dari US$1 setelah The Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang menyatakan bahwa militer AS menyerang Pulau Qeshm di Iran, yang terletak di mulut Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia.

Trump mengatakan dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa bahwa AS telah menghantam fasilitas antipesawat Iran dengan "sangat baik".

Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright bersikeras bahwa serangan tersebut tidak berdampak terhadap arus pelayaran melalui Selat Hormuz.

Risiko kenaikan harga lainnya masih membayangi pasar. Harga minyak mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada Oktober ketika kapal-kapal menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz dan para pedagang enggan memercayai proses perundingan.

Sejauh ini, perundingan tersebut berulang kali gagal menjamin jalur pelayaran di selat itu bebas dari risiko.

Presiden AS berulang kali mengatakan akan menyelesaikan konflik tersebut dengan satu cara atau cara lainnya, sembari mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan umum.

Trump mengatakan AS tidak berniat "membunuh banyak orang", tetapi menambahkan bahwa "jika kami harus melakukannya, kami akan melakukannya", dalam wawancara dengan Fox News ketika membahas langkah selanjutnya dalam perang tersebut.

Pasar Fisik

Ekspor yang kuat dari negara-negara produsen di kawasan Teluk Persia membantu menahan kenaikan harga, dengan sejumlah indikator pasar fisik menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.

Meskipun ekspor Iran secara efektif masih terhenti, arus ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait meningkat 10% menjadi lebih dari 15 juta barel per hari pada bulan lalu.

Pasar minyak fisik pun mulai melonggar, dengan indikator pasar minyak Timur Tengah menunjukkan bahwa pasokan jangka pendek untuk pertama kalinya sejak Juli mulai melampaui permintaan.

Sebagai tanda lain meningkatnya kembali pasokan dari kawasan tersebut, pimpinan Saudi Aramco mengatakan perusahaan akan memaksimalkan produksi minyak pada kuartal ini seiring upaya meningkatkan volume pengiriman.

Sementara itu, timespread terdekat untuk minyak acuan regional Dubai, yang membantu menentukan harga minyak mentah yang diekspor dari kawasan tersebut, telah memasuki kondisi contango—karakteristik pasar yang cenderung bearish atau mengindikasikan pelemahan harga.

Harga kargo minyak Laut Utara yang menjadi dasar penentuan Dated Brent, salah satu acuan harga minyak fisik yang paling banyak digunakan, juga mengalami penurunan.

"Kami melihat pasar minyak mentah mulai memasuki rezim harga yang lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama (higher-for-longer), dengan nilai wajar minyak mentah Brent tetap berada dalam kisaran US$90–US$100 per barel. Potensi kenaikan harga masih terbuka melalui premi risiko selama konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina belum terselesaikan," kata Ryan McKay, senior commodity strategist di TD Securities.

(bbn)

No more pages