Dengan begitu, bisa disimpulkan bahwa penurunan inflasi bulanan sepertinya belum cukup jadi indikasi bahwa tekanan inflasi domestik telah mereda secara menyeluruh, karena sejumlah komoditas pokok masih mengalami kenaikan harga.
Penyumbang Inflasi
Berdasarkan kelompok pengeluaran, tekanan inflasi terbesar berasal dari makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi. Kelompok makanan mencatat inflasi 4,82% yoy, dengan kontribusi 1,4 poin persentase terhadap inflasi nasional.
Sedangkan, transportasi mengalami inflasi 4,87% yoy dengan kontribusi 0,59 poin persentase. Artinya, kedua kelompok ini menyumbang sekitar 61,3% terhadap inflasi tahunan.
Di sektor pangan, kenaikan harga cabai rawit memberi kontribusi terbesar yakni 0,24 poin persentase, diikuti ikan segar 0,2 poin persentase, beras 0,17 poin persentase dan minyal goreng 0,12 poin persentase. Tekanan harga pangan ini berkaitan dengan komoditas yang sensitif (volatile food) terhadap perubahan pasokan, kondisi produksi, cuaca serta lancar-tidaknya distribusi antardaerah.
Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rahman memperkirakan, inflasi komponen harga bergejolak alias volatile food tetap tinggi lantaran permintaan pangan masih kuat terutama didorong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain itu, risiko kenaikan inflasi bisa semakin besar jika terjadi fenomena El Nino ekstrem, yang berpotensi mengganggu produksi pertanian setidaknya hingga semester I-2027.
"Kami memperkirakan, tanpa intervensi pemerintah untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan, inflasi pangan dapat meningkat sebesar 4,38 poin persentase dalam skenario El Nino kuat," sebut Faisal.
Sedangkan, kenaikannya bisa lebih rendah sekitar 2,88 poin persentase dalam skenario El Nino yang lebih moderat.
Selain pangan, transportasi sepertinya mulai jadi sumber tekanan yang perlu diwaspadai. Sebab, kelompok ini bisa punya efek rambatan terhadap harga barang dan jasa. Kenaikan inflasi di kelompok ini utamanya didorong oleh kenaikan harga bensin yang berkontribusi sebesar 0,31 poin persentase, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,1 poin persentase.
Kenaikan harga energi juga punya dampak ganda terhadap perekonomian. Meski sebenarnya pemerintah sudah menahan transmisi kenaikan minyak dunia dengan skema subsidi, namun kenaikan yang terjadi di bensin jenis Pertamax berpotensi ikut mengerek pengeluaran rumah tangga, ongkos logistik, dan operasional dunia usaha.
Inflasi Impor
Ancaman inflasi impor ini bukan isapan jempol semata. Meskipun pemerintah diperkirakan tetap mempertahankan harga energi bersubsidi pada level pada level saat ini hingga akhir tahun, inflasi berpotensi terkerek ke 3,13%, naik dari inflasi di akhir tahun lalu yang sebesar 2,92%.
Namun, kenaikan harga minyak mentah yang terus melambung berpotensi membatasi kemampuan pemerintah menggunakan kebijakan fiskal sebagai penyangga dalam meredam guncangan harga energi global.
"Mempertahankan subsidi energi domestik akan semakin membebani anggaran engara dan meningkatkan kemungkinan kenaikan harga yang diatur pemerintah, terutama pada komoditas energi, bahan bakar minyak, dan transportasi," kata Faisal.
Jika akhirnya benteng fiskal pemerintah tak kuat menahan beban kenaikan harga minyak global, Faisal memperkirakan setiap kenaikan harga bensin bersubsidi sebesar 10% bisa menambah kenaikan inflasi sekitar 0,73 poin persentase. Angka itu terdiri dari dampak langsung (first-round effects) sebesar 0,39 poin persentase, dan dampak lanjutan (second-round effects) sebesar 0,34 poin persentase.
Belum lagi, depresiasi rupiah yang persisten dapat memperburuk tekanan inflasi yang berasal dari impor. Sepanjang Oktober, rupiah telah melemah sebesar 1,54%. Jika ditarik pada kinerja setahun berjalan, rupiah telah menjadi mata uang terlemah di kawasan dengan depresiasi 8,07%.
Pelemahan rupiah sepanjang tahun ini berpotensi memperkuat tekanan inflasi impor, terutama yang datang dari kenaikan harga bahan baku, barang konsumsi yang bergantung pada pasokan luar negeri. Jika tekanan depresiasi rupiah itu berlangsung secara persisten, kenaikan biaya berisiko diteruskan secara bertahap kepada konsumen dan memperkuat tekanan inflasi inti.
Tekanan ini diperkirakan akan mendorong Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan BI Rate setidaknya 25 basis poin (bps) jadi 6% pada November.
(dsp)


























