Logo Bloomberg Technoz

“Saya belum mendengar satu pun pejabat atau warga sipil di negara-negara Teluk yang mendukung serangan baru AS-Israel terhadap Iran. Namun, sebagian besar merasa putaran konflik berikutnya akan segera terjadi,” kata Mohammed al-Basha, peneliti di bidang keamanan internasional pada Royal United Services Institute. “Mereka menilai Iran akan bertindak lebih agresif dalam konflik kali ini dan tidak akan lagi mematuhi aturan pelibatan yang sebelumnya dijalankan.”

Harga minyak turun pada awal perdagangan Senin di Asia setelah muncul laporan bahwa Trump ingin memberi kesempatan lebih banyak bagi diplomasi sebelum memutuskan apakah akan kembali menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu pada Selasa.

Di berbagai negara di kawasan tersebut, para pejabat khawatir putaran pertempuran berikutnya dapat menimbulkan kehancuran yang lebih besar dibandingkan konflik sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan dalam forum tersebut pada Sabtu bahwa dirinya “sangat khawatir” akan pecahnya kembali permusuhan. “Putaran kedua akan lebih berbahaya, lebih merusak, dan tidak akan membawa kita ke mana-mana,” katanya. “Kita harus mengambil pelajaran dari masa lalu.”

Iran semakin memperbesar kekhawatiran tersebut melalui ancaman akan memperluas perang. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei pada Sabtu memerintahkan para komandan militer untuk bersiap melakukan serangan balasan segera tanpa batasan geografis, sekaligus memperluas daftar target potensial AS dan Israel. Angkatan Darat Iran memperingatkan bahwa serangan baru AS-Israel akan menyebarkan perang ke wilayah yang jauh lebih luas.

“Jika musuh kembali melancarkan serangan militer atau teroris, angkatan bersenjata Republik Islam dan rakyat Iran-lah yang akan menentukan waktu serta kondisi berakhirnya konflik,” kata Khamenei dalam pernyataan yang diunggah di Telegram. Media Iran pada Minggu menyoroti perintah Khamenei agar militer merespons setiap serangan baru “tanpa batasan geografis”.

Serangan udara selama berbulan-bulan gagal melumpuhkan kemampuan Iran untuk memproduksi rudal dan drone. Teheran masih mempertahankan kapasitas produksi yang cukup untuk mengisi kembali persenjataannya, menurut sejumlah pejabat Barat kepada Bloomberg pada Oktober. Salah satu pejabat mengatakan Iran masih memiliki persediaan rudal balistik dan sejumlah senjata antikapal dalam jumlah besar. Rusia juga disebut memasok rudal kepada Iran.

Hingga awal Oktober, Iran telah meluncurkan lebih dari 4.000 drone Shahed dan sedikitnya 2.000 rudal balistik sejak perang dimulai pada 28 Februari, menurut Bloomberg Economics. Penilaian intelijen Barat pada Juni menunjukkan Teheran masih memiliki sekitar tiga perempat dari persediaan amunisinya sebelum perang. Namun, jumlah persediaan Iran saat ini belum diketahui secara pasti.

“Iran jauh lebih siap menghadapi putaran pertempuran berikutnya,” kata Emile Hokayem, direktur keamanan kawasan sekaligus peneliti senior bidang keamanan Timur Tengah di International Institute for Strategic Studies (IISS).

Menurut Hokayem, respons Teheran terhadap serangan pada 28 Februari menunjukkan bahwa Iran telah belajar dari kegagalan sebelumnya dan mengembangkan strategi militer yang lebih canggih. “Itu bukan kemenangan bagi Iran, tetapi menunjukkan bahwa Iran mampu mengimbangi lawan-lawannya dan lembaga militernya memiliki kemampuan untuk belajar serta beradaptasi.”

Sementara itu, negara-negara Teluk berupaya mengisi kembali persediaan rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara setelah berbulan-bulan menghadapi rentetan serangan rudal dan drone. Upaya tersebut berlangsung di tengah kelangkaan teknologi tersebut secara global, sementara AS dan Israel memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan mereka sendiri, menurut laporan IISS yang diterbitkan pada Jumat.

Perang juga memperlihatkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakan rudal canggih guna menembak jatuh drone Iran yang berharga jauh lebih murah. Pasukan negara-negara Teluk pun semakin banyak mengerahkan helikopter serang, jet tempur, meriam antipesawat, dan perangkat pengacau elektronik sebagai alternatif.

Serangan tersebut juga memicu kekecewaan negara-negara Teluk karena harus menanggung dampak konflik yang tidak mereka mulai.

“Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) bukan pihak dalam perang ini dan tidak pernah menginginkannya,” kata Sekretaris Jenderal GCC Jasem Al-Budaiwi dalam forum tersebut pada Sabtu.

Dalam pernyataan publik, para pejabat kawasan yang hadir di Manama sebagian besar memuji peran keamanan AS di Teluk. Namun, secara tertutup, mereka mengungkapkan kekecewaan terhadap tindakan militer dan diplomasi Washington.

“Ada kekecewaan luas di seluruh kawasan terhadap Amerika Serikat akibat keputusan ceroboh untuk berperang, tindakan militer dan diplomatik Washington yang tidak konsisten, serta keputusannya untuk memprioritaskan pertahanan Israel dibandingkan pertahanan mitra-mitranya di Teluk,” kata Hasan Alhasan, peneliti senior kebijakan Timur Tengah di IISS.

“Jika pembebasan Kuwait oleh AS pada 1991 menjadi momen yang mengukuhkan peran Amerika di kawasan ini, perang pada 2026 mungkin akan dikenang sebagai momen yang justru mengakhiri peran tersebut.”

Sementara itu, negara-negara Teluk berlomba mencegah serangan baru AS-Israel. Sejumlah pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan melakukan perjalanan ke Teheran pekan lalu. Di saat yang sama, mediator Qatar menggelar pembicaraan dengan Iran di Teheran dan Doha.

Namun, perbedaan besar masih belum terselesaikan. Iran menginginkan blokade laut AS dicabut, sanksi dilonggarkan, dan aset-asetnya yang dibekukan dibebaskan sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. Sementara itu, Washington menuntut konsesi terkait program nuklir Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu mengatakan para mediator sedang membahas rencana untuk membuka kembali jalur perairan tersebut dalam dua hari jika AS memenuhi persyaratan Teheran. Namun, dia menegaskan bahwa kesepakatan “bergantung pada jawaban yang diberikan pihak lain atas pertanyaan-pertanyaan kami”.

Gargash, penasihat UEA, memperingatkan konsekuensi yang mungkin terjadi jika upaya diplomasi gagal. “Jika perbedaan posisi ini tidak dapat dijembatani, kita harus mengkhawatirkan kemungkinan terburuk,” katanya.

(bbn)

No more pages