“Inflasi pangan diperkirakan tetap relatif terkendali, meskipun risiko terkait cuaca perlu terus dipantau,” sebut laporan tersebut.
ADB mencermati bahwa cadangan beras yang memadai dan kebijakan untuk mendukung produksi pertanian dapat membantu meredakan tekanan dari sisi pasokan. Pada saat yang sama, koordinasi berkelanjutan antara pemerintah dan bank sentral diharapkan dapat menjaga ekspektasi inflasi.
“Berbagai langkah yang terus dilakukan, seperti pengembangan irigasi, penguatan cadangan pangan, dan bantuan sosial, juga diharapkan dapat mengurangi dampak El Niño terhadap harga pangan dan rumah tangga rentan,” kata ADB.
Pertumbuhan Ekonomi Diramal 5,2%
Sementara itu, ADB memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun akan mencapai 5,2%. Angka ini tak berubah dibandingkan dengan proyeksi lembaga tersebut pertengahan tahun lalu.
“Produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan tumbuh sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027, tidak berubah dibandingkan proyeksi dalam ADO [Asian Development Outlook] Juli 2026,” sebut laporan tersebut.
Menurut ADB, meskipun pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 lebih baik dari perkiraan sehingga memberikan fondasi yang kuat, aktivitas ekonomi diperkirakan melambat pada semester II seiring normalisasi belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat, serta permintaan eksternal yang masih lemah.
ADB menyebut bahwa indikator manufaktur terbaru menunjukkan sinyal yang beragam dan mengindikasikan momentum yang lebih lemah pada kuartal III.
Sementara, indikator aktivitas riil Bank Indonesia menunjukkan bahwa sektor manufaktur dan dunia usaha secara luas masih cukup tangguh. Namun, indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) global S&P berada di sekitar ambang batas ekspansi hingga Agustus.
ADB menyebut bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi tetap ditopang oleh permintaan domestik dan penguatan investasi swasta. Namun, sejumlah risiko perlu terus dicermati.
“Fenomena El Niño yang lebih kuat atau berlangsung lebih lama berpotensi menekan sektor pertanian dan sektor lain yang sensitif terhadap perubahan iklim, terutama pada awal 2027. Sementara itu, permintaan eksternal yang lemah dan suku bunga global yang tetap tinggi dapat menghambat arus masuk modal serta investasi swasta,” kata laporan tersebut.
Dampak kondisi cuaca kering terhadap produksi pangan pokok sejauh ini masih terbatas. Produksi pertanian secara umum tetap tangguh, meskipun risiko terkait cuaca perlu terus dipantau.
Kebakaran hutan dan lahan gambut, serta bencana alam lainnya, juga menjadi risiko penurunan pertumbuhan ekonomi apabila secara signifikan mengganggu produksi dan aktivitas ekonomi.
ADB mengingatkan bahwa kebijakan fiskal perlu mendukung permintaan domestik hingga sisa 2026. Konsumsi pemerintah yang tumbuh sangat kuat pada semester I 2026 diperkirakan akan mengalami moderasi.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap ditopang oleh perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, serta program-program prioritas yang membantu menjaga daya beli masyarakat.
“Realisasi anggaran pada semester II 2026 diharapkan dapat mendukung investasi infrastruktur, belanja modal, dan pelaksanaan proyek-proyek strategis. Defisit fiskal sepanjang tahun diperkirakan tetap berada di bawah batas maksimal sebesar 3% dari PDB,” sebut laporan tersebut.
(ell)




























