Dari total 502 hektare area kebakaran yang belum padam di Papua Selatan per 29 Oktober, sekitar 250 hektare atau hampir separuhnya berada di klaster tersebut. Wilayah ini juga menyumbang 36% titik panas di Papua Selatan berdasarkan data per 30 Oktober.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan kebakaran di klaster Jago Merah-Tanah Miring membutuhkan penanganan lebih intensif lantaran proporsi luas area yang belum padam relatif besar dibandingkan jumlah titik panasnya.
Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze yang turut hadir dalam rapat koordinasi penanganan karhutla dan kekeringan di Provinsi Papua Selatan, yang berlangsung di Kantor Bupati Merauke menjelaskan, karhutla di wilayahnya dipicu kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.
Kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino menyebabkan lahan semakin kering sehingga vegetasi savana, termasuk serasah daun dan ranting, mudah terbakar.
Selain itu, praktik pembukaan lahan pertanian dan area berburu dengan cara dibakar masih ditemukan di masyarakat. Kelalaian seperti membakar sampah sembarangan dan membuang puntung rokok di kawasan lahan kering juga berpotensi memicu kebakaran.
“Selain cuaca, beberapa faktor karhutla di Merauke memang ada indikasi disengaja karena pembukaan lahan,” jelas Yoseph.
Selain pencegahan, Kristomei juga mendorong optimalisasi personel dan peralatan pemadaman dengan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat, serta pihak swasta.
Sebagai dukungan terhadap penanganan karhutla, BNPB menyalurkan bantuan logistik dan peralatan pemadaman senilai sekitar Rp177 juta kepada Pemerintah Kabupaten Merauke. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA).
Bantuan terdiri atas dua unit pompa air Robin 3 inci 7 HP, 10 unit jet shooter backpack, 20 rol selang hantar 2,5 inci x 30 meter, dua unit nozzle pemadam, 30 pasang sepatu bot pemadam, serta 30 unit masker 3M.
BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan di Papua Selatan
Di sisi lain, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathoni memperingatkan potensi kekeringan di Papua Selatan masih perlu diwaspadai. Prakiraan curah hujan pada dasarian 1 November 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Papua Selatan masih berpotensi mengalami hujan kategori rendah.
Berdasarkan pemantauan sepuluh harian hingga 20 Oktober 2026, tercatat 329 titik pengamatan mengalami hari tanpa hujan (HTH) kategori panjang, 391 titik kategori sangat panjang, dan 1.707 titik kategori ekstrem panjang.
HTH terpanjang mencapai 171 hari yang tercatat di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Khusus wilayah Papua Selatan, prakiraan curah hujan pada dasarian 1 November 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah masih berpotensi mengalami hujan kategori rendah.
Sementara itu, awal musim hujan 2026/2027 diprediksi berlangsung secara bertahap dan lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Wilayah utara diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir November, sedangkan wilayah tengah dan selatan menyusul pada pertengahan hingga akhir Desember 2026.
(lav)





























