AMMN mencetak laba bersih US$880 juta atau sekitar Rp16 triliun (asumsi kurs Rp18.174 per dolar AS) per September 2026. Sebelumnya, AMMN masih mencatat rugi bersih US$175 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Torehan laba bersih itu ditopang oleh penjualan bersih US$3,24 miliar, naik 494% dari periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan penjualan bersih itu berasal dari segmen usaha tembaga katoda sekitar US$1.380 juta (42,62%), segmen konsentrat menyumbang US$1.085 juta (33,51%), dan segmen emas murni menyumbang US$772 juta (23,84%).
Posisi EBITDA AMMN pada periode yang berakhir September 2026 menjadi US$1,83 miliar dengan margin EBITDA sebesar 57%.
Pencapaian ini naik sekitar 557% dibanding EBITDA periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar US$279 juta.
“Kinerja sembilan bulan pertama 2026 mencerminkan dampak positif dari penguatan kinerja operasional, peningkatan volume penjualan, serta kondisi harga logam yang menguntungkan,” kata Arief.
Dari lantai bursa, saham AMMN sudah jatuh 43,97% ke level Rp3.600 per saham sepanjang tahun ini. Saham AMMN sempat menyentuh level Rp8.150 per saham pada Januari 2026 lalu.
Koreksi lebar saham kongsi Grup Salim dan Keluarga Panigoro itu terjadi seiring dengan aksi jual investor asing sepanjang tahun ini. Investor asing mencatat posisi jual bersih Rp5,3 triliun year-to-date.
Kendati demikian, investor asing mulai mencatat net buy saham AMMN selama satu bulan terakhir sebesar Rp27,95 miliar.
(naw)































