Logo Bloomberg Technoz

Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan saat ini ekspor pipa gas ke Singapura mencapai 409,5 miliar unit termal Inggris per hari (BBtud) yang berasal dari Natuna dan Sumatra.

Oleh sebab itu, Bahlil menegaskan pemangkasan ekspor sebesar 31 BBtud yang dilakukan Indonesia ke Singapura tak melanggar kontrak yang ada, sebab masih dalam batas mininum.

"Nah, sekarang ini kan yang kita lakukan pemotongan sebagian itu kan adalah 31 [BBtud] dari total 409 [BBtud] dari kontrak yang ada. Dengan yang ada itu, kita belum melanggar kontrak karena ada batas minimum," ujarnya.

Ihwal ekspor LNG, dia menyatakan saat ini terdapat 148 kargo LNG setara 1.480 BBtud yang diekspor ke Singapura.

Dia meyakini tak seluruh 148 kargo LNG tersebut digunakan untuk kepentingan domestik Singapura, melainkan dilakukan trading atau dijual kembali ke negara lain.

"Kemudian yang kita ekspor juga adalah 148 kargo daripada LNG. 148 kargo itu setara dengan 1.480 [BBtud]. Itu yang kita kirim. Tapi keyakinan saya bahwa pengiriman 148 kargo itu tidak semuanya itu dipakai untuk kepentingan Singapura, tapi sebagian dijadikan sebagai trading untuk kemudian diekspor lagi ke negara lain," ucap Bahlil.

Sebagai informasi, Menlu Singapura Vivian Balakrishnan menyinggung kontrak gas jangka panjang antara negara kota tersebut dengan Indonesia, setelah menemui Prabowo di Hambalang, Rabu (28/10/2026).

Balakrishnan menyatakan bahwa kedua negara memiliki komitmen bersama untuk menghormati kontrak.

Hal tersebut disampaikannya guna menjawab pertanyaan awak media; apakah Singapura dan Indonesia telah mencapai kesepakatan mengenai kewajiban kontrak, menyusul pemangkasan ekspor gas.

"Jika Anda mencermati pernyataan yang disampaikan oleh Bapak [PM] Wong, Menteri [Energi dan Industri] Tan, serta para menteri Indonesia, Anda akan menyadari bahwa sebenarnya terdapat komitmen bersama terhadap kesakralan kontrak, dan itu hal yang baik," ujarnya, dilansir dari Straits Times.

Dia menegaskan bahwa menghormati kontrak sangat penting bagi kredibilitas dan daya saing perekonomian kedua negara tersebut.

Balakrishnan mengungkap Singapura mampu mengatasi gangguan ini, berkat diversifikasi sumber energinya dan pengembangan terminal LNG.

Dia juga menyinggung rencana yang tengah dijajaki terkait penyimpanan minyak strategis bersama Arab Saudi, serta kunjungan para menteri Singapura ke luar negeri guna mengamankan pasokan esensial.

"Inti dari langkah ini adalah mengamankan pasokan esensial agar Singapura tetap beroperasi, apa pun yang terjadi," tegasnya.

Sepanjang 2025, berdasarkan data Kementerian ESDM dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), total distribusi pasokan gas bumi domestik sepanjang 2025 rata-rata mencapai 5.597 BBtud.

Pemanfaatan gas tersebut mayoritas disalurkan ke sektor prioritas, yakni industri manufaktur dan pembangkitan listrik nasional.

Adapun, sektor industri penerima fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang mencakup 225 perusahaan memperoleh alokasi gas bumi sebesar 693,31 BBtud sepanjang 2025.

Sementara itu, konsumsi pasokan gas untuk sektor industri non-HGBT atau kategori komersial reguler sepanjang 2025 berada pada kisaran 1.073,69 BBtud hingga 1.200 BBtud.

Pemenuhan gas bagi manufaktur skala menengah hingga besar ini, di luar penerima insentif khusus, disalurkan melalui jaringan distribusi pipa PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) atau PGN maupun penyalur swasta lainnya dengan harga komersial pasar.

Untuk sektor ketenagalistrikan, kebutuhan pasokan gas bumi untuk pembangkit listrik nasional yang dikelola oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dan penyedia listrik swasta tercatat sebesar 724 BBtud melalui pasokan pipa.

Apabila memperhitungkan alokasi gas alam cair (LNG) domestik yang lebih dari 90%-nya dimanfaatkan untuk pembangkit ketenagalistrikan, total realisasi kebutuhan gas untuk sektor listrik mencapai kisaran 1.456 BBtud.

(azr/ros)

No more pages