Jika dilihat dari luar angkasa, sangat tampak gumpalan besar CO yang membentang melintasi seluruh wilayah Indonesia, Singapura, Malaysia, Australia bagian utara, hingga ke arah India.
Pemandangan ini sangat berbeda dengan setahun lalu, ketika tidak ada gumpalan asap karena tidak terjadi kebakaran besar.
Menurut Harvard Health, CO menggantikan oksigen dalam aliran darah, membuat otak, jantung, dan jaringan tubuh kekurangan udara yang dibutuhkan untuk berfungsi. Di atmosfer, senyawa ini dapat memperburuk pemanasan global.
CO melakukan hal tersebut dengan memperlambat proses penguraian metana dan gas rumah kaca berumur pendek lain di atmosfer, sehingga memperpanjang masa hidup mereka di udara.
Metana merupakan gas rumah kaca yang bahkan lebih kuat daripada CO₂, dan Karhutla juga menghasilkan gas ini dalam jumlah besar, sehingga menciptakan lingkaran setan yang mempercepat pemanasan global.
2. CO₂
Saat tanaman tumbuh, karbon unsur atau C-12 tersimpan di batang, daun, dan akar tanaman. Ketika bahan tanaman dibakar, karbon tersebut teroksidasi menjadi CO₂. Karhutla di Indonesia telah melepaskan CO₂ dalam jumlah besar, yang merupakan gas rumah kaca utama di dunia, ke atmosfer.
Yang paling mengkhawatirkan adalah gambut padat, yaitu bahan tanaman yang telah terakumulasi selama ratusan hingga ribuan tahun di lapisan dalam yang seringkali tebalnya mencapai beberapa meter. Lahan gambut bisa terbakar selama berbulan-bulan, sehingga mengeluarkan asap tebal yang beracun.
Badan-badan pemantau, seperti Copernicus Atmospheric Monitoring Service dari Uni Eropa, melacak emisi karbon harian dari Karhutla di Indonesia.
Hingga saat ini, Karhutla di Indonesia telah melepaskan sekitar 200 juta metrik ton karbon unsur, atau setara setara dengan 733 juta metrik ton CO₂. Angka ini mendekati total emisi CO₂ dari bahan bakar fosil Indonesia sebesar 813 juta metrik ton pada 2024, menurut Global Carbon Atlas, yang mengukur emisi gas rumah kaca nasional.
3. Aerosol
Partikel-partikel kecil yang terbawa angin melintasi jarak jauh meliputi jelaga dari pembakaran bahan tanaman, debu, dan partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang.
Kabut asap juga mengandung banyak partikel halus (PM2,5) dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Partikel-partikel ini bisa masuk jauh ke dalam paru-paru dan memasuki aliran darah, sehingga memperparah kondisi pernapasan dan jantung.
Komponen lainnya termasuk senyawa sulfat dan , debu dari partikel tanah dan senyawa organik p, yang merupakan sumber utama kabut asap.
Komponen lainnya meliputi senyawa sulfat dan sulfur, debu dari partikel tanah, serta senyawa organik yang mudah menguap—sumber utama kabut asap.
Selain aerosol, Karhutla melepaskan nitrogen dioksida (gas rumah kaca kuat lainnya) yang dapat menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan dan berisiko bagi penderita asma atau penyakit jantung.
Asap Karhutla juga dapat meningkatkan kadar ozon di udara, yang merupakan komponen utama kabut asap dan dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Dalam Angka
Karhutla tahun ini telah menghanguskan hampir dua juta hektare lahan (nyaris 28 kali luas Singapura) hingga September, berdasarkan analisis satelit oleh lembaga pemantau deforestasi Nusantara Atlas.
Lebih dari 1,2 juta titik api tercatat hingga September pada musim kebakaran yang dipicu oleh kekeringan akibat El Niño dan pembukaan lahan secara ilegal.
Luas lahan yang terbakar kemungkinan besar akan bertambah karena kebakaran hebat terus berkobar di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua Selatan selama Oktober.
Selama Karhutla pada 2019 dan 2015-2016, lebih dari 2,6 juta hektare lahan terbakar. Meski hujan lebat mulai turun di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan, kebakaran gambut yang dalam kemungkinan akan terus membara hingga hujan monsun yang terus-menerus akhirnya dapat memadamkannya.
Namun, ada kekhawatiran bahwa fenomena El Niño saat ini, yang masih terus menguat, akan memperlambat datangnya monsun timur laut.
(ros)































