Di sisi lain, Kementerian ESDM juga bakal mempertimbangkan stok bijih nikel nasional dalam menetapkan kuota produksi 2027.
“Itu juga mesti kita exercise supaya nanti jangan sampai produksi kita menambah lagi over-nya. Jadi bagaimana [perhitungan RKAB 2027] yang optimal bukan hanya untuk sesuai dengan semester, tetapi globalnya seperti apa,” tegas dia.
Sebelumnya, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin memproyeksi realisasi produksi bijih nikel sepanjang tahun ini bakal mencapai sekitar 290 juta mt.
Cecep menyatakan proyeksi tersebut dihitung dengan mempertimbangan rata-rata produksi bijih nikel hingga kuartal III-2026.
Dia menyatakan besaran proyeksi produksi bijih nikel sekitar 290 juta mt pada tahun ini tidak begitu jauh dengan realisasi tahun lalu sebanyak 320,37 juta mt.
“Forecast-nya tercapai hampir sama dengan yang tahun lalu. Kalau dilihat dari forecast secara ini ya, secara performance masing-masing perusahaan. Hampir sama sih, sekitar di angka 290-an [juta mt],” kata Cecep kepada awak media usai agenda BIG Downstream Insight, Selasa (6/10/2026).
Dalam kaitan itu, dia menyatakan kebutuhan bijih smelter di Indonesia saat ini mencapai sekitar 320 juta mt. Dia meyakini kekurangan pasokan bijih tersebut dapat teratasi dengan stok yang dimiliki saat ini.
Cecep memperkirakan stok bijih nikel nasional pada akhir 2025 mencapai sekitar 40 juta mt, sehingga tidak terdapat defisit bijih yang terjadi.
“Sebenarnya kalau kita lihat ke angka 2025 akhir itu, mereka punya stok sekitar mendekati 40 juta ton. Mereka bilang kurang itu untuk menjamin kepastian target tahun depan ada ketakutan kayak dulu-dulu,” ungkapnya.
Sekadar catatan, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat realisasi serapan bijih nikel sepanjang Januari—Juni mencapai 120,6 juta mt atau setara 46,2% dari kuota produksi dalam RKAB 2026 sejumlah 260—270 juta mt.
Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey mencatat saat ini terdapat 422 izin usaha pertambangan (IUP) nikel aktif yang memasok 79 fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel.
Dia menjelaskan 79 smelter tersebut terdiri atas 55 fasilitas pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), 10 pabrik hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL), 10 penghasil nickel matte, dan 6 smelter baja nirkarat terintegrasi.
Dia mencatat kebutuhan bijih nikel 79 smelter tersebut—jika beroperasi pada kapasitas penuh — dapat mencapai 415 juta mt per tahun.
“Hingga Juni 2026, konsumsi bijih domestik tercatat sekitar 120,06 juta ton, atau kurang lebih 46,2% dari kuota yang disetujui. Sementara itu, kebutuhan 79 fasilitas hilirisasi apabila seluruhnya beroperasi pada kapasitas penuh diperkirakan dapat mencapai sekitar 415 juta ton per tahun,” kata Meidy melalui keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).
Di sisi lain, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan kapasitas produksi MHP Indonesia pada akhir 2027 bakal meningkat secara signifikan melebihi 900.000 mt nikel.
Sebagai perbandingan, menurut FINI, produksi smelter HPAL berupa MHP, nikel sulfat, dan kobalt sulfat mencapai sekitar 450.000 mt nikel.
FINI mencatat realisasi produksi nikel olahan hingga Agustus 2026 mencapai 1,7 juta mt Ni dari smelter pirometalurgi berbasis RKEF dan sekitar 270.000 mt Ni dari smelter HPAL.
(azr/wdh)






























