Sentimen yang datang dari upaya diplomatik itu yang menjadi katalis dan membuat mata uang kawasan berhasil rebound. Dolar AS diperkirakan melemah terhadap mata uang Asia dengan sinyal yang belum terang dari The Fed saat ini.
Adanya perbaikan sentimen terhadap aset berisiko di tengah koreksi dolar AS dan imbal hasil US Treasury turut menopang gerak rupiah.
Yield US Treasury terpangkas 1,6 basis poin (bps) jadi 4,98%. Diikuti penurunan yield obligasi pemerintah Inggris 2,5 bps jadi 5,32%, menyusul obligasi Australia pangkas yield turun 1,9 bps jadi 5,188%, Selandia baru turun 0,6 bps jadi 4,91%, sementara China stabil di 1,61%.
Namun, sebagian negara Asia masih mencatat kenaikan yield, seperti Jepang naik 2,1 bps jadi 2,83%, disusul obligasi RI berdenominasi dolar AS (INDON) naik 0,9 bps jadi 6,04%.
Meski begitu, peluang ini masih tetap dibayangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Sebab, sikap bank sentral AS yang menahan suku bunga saat ini tidak otomatis menandakan siklus pengetatan telah berakhir.
Jika ternyata data inflasi AS, Personal Consumption Expenditure (PCE) AS yang akan rilis besok dini hari, ternyata lebih tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa kembali menguat dan membatasi ruang penguatan mata uang Asia.
(dsp)






























