Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Yield SBN Kurang Atraktif di Tengah Pelemahan Rupiah

Redaksi
29 October 2026 09:40

Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)
Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun terus mencatatkan peningkatan. Per 28 Oktober 2026 yield SBN tercatat sebesar 7,62%, dibandingkan obligasi pemerintah AS sebesar 5,01%, sehingga selisihnya mencapai 261 basis poin. Meski demikian, imbal hasil tersebut tak cukup untuk menarik investor asing menanamkan dananya ke Indonesia.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menyebut bahwa saat ini investor mempertimbangkan  keuntungan setelah memperhitungkan risiko pelemahan rupiah, potensi kerugian harga obligasi, dan ketidakpastian pasar keuangan Indonesia.

Karena, meski selisih imbal hasil cukub besar namun, rupiah telah melemah sekitar 8,2% sejak awal tahun ke kisaran Rp18.183 per dolar AS.


“Bagi investor berbasis dolar, pelemahan rupiah sebesar 3% saja dalam setahun berpotensi menghapus seluruh keunggulan imbal hasil 261 basis poin tersebut, bahkan sebelum memperhitungkan biaya lindung nilai dan risiko perubahan harga obligasi,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Rabu (28/10/2026).

Karena itu, menurutnya semakin tinggi imbal hasil SBN belum tentu membuatnya semakin menarik. Kenaikan imbal hasil justru dapat mencerminkan tambahan premi risiko yang diminta investor untuk menahan aset rupiah.