Logo Bloomberg Technoz

Hal ini menurutnya akan menjadi penyebab kenaikan harga minyak lebih lanjut yang berimplikasi pada inflasi dan pada kenaikan suku bunga. Hal ini menyebabkan indeks dolar AS menjadi lebih tinggi.

Ia mengingatkan bahwa saat ini Indonesia masih terbentur dengan impor energi yang cukup tinggi  sementara harga minyak terus mencatatkan kenaikan hingga di atas US$100 per barel. Padahal APBN mematok Indonesian Crude Price (ICP) di angka US$70 per barel.

“Harus diingat bahwa kenaikan minyak di US$70 [per barel] menjadi US$100 [per barel], itu berarti ada selisih 30. Kalau serisi 30 dikalikan dengan Rp6,8 triliun,” katanya.

Ia juga menyoroti target rupiah di APBN yang tertulis sebesar Rp16.500 per US$ yang saat ini memiliki selisih cukup besar dengan nilai tukar rupiah saat ini.

“Depresiasi rupiah, 100 rupiah itu dihargai dengan berapa? Dihargai dengan 800 miliar. Sehingga dikalikan dengan 1.500, itu sudah berapa?” katanya.

Kebutuhan Dolar dari Dividen dan Yield Obligasi

Sementara Ia juga mengingatkan bahwa yield obligasi yang sudah mencapai 7,7% sudah lebih tinggi ketimbang target APBN di level 7,4%. Kenaikan 0,1% yield menurutnya setara dengan Rp1,9 triliun sehingga kebutuhan dolar menjadi semakin tinggi.

Belum lagi pembayaran utang jatuh tempo dan kebutuhan pembayaran dividen di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang juga membutuhkan dolar dan El Nino yang  berpotensi menggelembungkan harga pokok.

“Ini yang membuat rupiah mengalami pelemahan sampai di Rp19 ribu per US$ sampai akhir tahun,” kata Ibrahim.

Sebagai catatan, berdasarkan data Bloomberg, rupiah menutup perdagangan Rabu (28/10/2026) melemah 0,17% di level Rp18.183/US$, setelah sempat menyentuh posisi All Time Low (ATL) di Rp18.188/US$ siang tadi. 

Namun jika dilihat dari posisi penutupan, maka rupiah yang finis di posisi Rp18.183/US$ adalah yang terlemah sepanjang sejarah.

Menanggapi hal tersebut, bank sentral menilai pergerakan rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah.

"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/10/2026).

Dia mengklaim sentimen risk-off (pembalikan modal) yang memburuk mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil atau yield obligasi.

Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan.

Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15%. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026," klaimnya.

Dia memastikan bahwa bank sentral akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. 

Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot.

"BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," tegasnya.

Bank Indonesia, lanjutnya, terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.

(prc/ell)

No more pages