Logo Bloomberg Technoz

Begitu juga dengan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) defensif dengan pelemahan terbatas 0,01% di kisaran Rp18.187/US$, setelah sempat menembus posisi All Time Low (ATL) kemarin. 

Tak lama berselang, rupiah offshore kembali melemah 0,11% ke Rp18.207/US$ pada 07.40 WIB. 

Mata uang Asia, menguat pagi ini tertopang keputusan The Fed tahan suku bunga. (Bloomberg)

Pergerakan rupiah di pasar offshore merespons sikap The Fed yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada Desember. Kebijakan moneter The Fed kali ini cukukp solid. Hanya dua suara yang memilih menaikkan suku bunga, sementara sisanya mengambil sikap hawkish hold. 

Meskipun kenaikan suku bunga pada Desember masih terbuka, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan bahwa ia tidak bermaksud menghambat pertumbuhan ekonomi. Ia tetap mengisyaratkan keinginan untuk menekan inflasi tanpa memperlambat investasi dunia usaha maupun perekrutan tenaga kerja. 

Sikap The Fed menahan suku bunga membuat kurva imbal hasil obligasi Treasury AS kian curam, dan memberi ruang penguatan pada pasar obligasi di negara berkembang. 

Data Bloomberg pagi ini menunjukkan yield obligasi pemerintah Inggris turun 2,5 bps jadi 5,32%, diikuti Australia turun 1,9 bps jadi 5,188%, Selandia baru turun 0,6 bps jadi 4,91%, sementara China stabil di 1,61%. 

Namun, sebagian negara Asia masih mencatat kenaikan yield, seperti Jepang naik 2,1 bps jadi 2,83%, disusul obligasi RI berdenominasi dolar AS (INDON) naik 0,9 bps jadi 6,04%. 

Bagi aset domestik, masalah utamanya tidak datang dari selisih suku bunga dan imbal hasil obligasi, melainkan adanya perubahan preferensi risiko investor global setelah MSCI berencana menurunkan klasifikasi pasar saham RI ke Standalone Market. 

Perubahan preferensi risiko itu masih berpotensi menekan rupiah. Tekanan itu bisa muncul dari berlanjutkan aksi jual di pasar saham maupun obligasi RI. Terlebih, persepsi risiko investasi domestik diperparah dengan gejolak sosial-politik dengan adanya demonstrasi kemarin. 

Sentimen-sentimen itu diperkirakan masih akan menekan rupiah spot hari ini dan mendorong rupiah bergerak di kisaran Rp18.180 hingga Rp18.200/US$. 

Analisa Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 29 Oktober 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal nilai tukar rupiah masih ada potensi melanjutkan tren pelemahan, tertekan sentimen yang kurang positif di pasar, dengan target pelemahan menuju level Rp18.200/US$ yang merupakan support pertama dengan hingga tren depresiasi lanjutan Rp18.250/US$ seiringan mencetak All Time Low/ ATL baru-nya.

Apabila kembali break kedua support tersebut dengan volume yang besar, rupiah berpotensi melemah (lagi) menuju level pesimistis Rp18.300/US$ sebagai support paling terkuatnya.

Jika nilai tukar rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada level Rp18.150/US$ hingga selanjutnya kembali menembus psikologis potensialnya Rp18.100/US$.

(riset)

No more pages