Sekadar informasi, Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir telah menerima kunjungan Balakrishnan di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, pada Selasa (27/10/2026) pukul 15.00 WIB.
Berdasarkan keterangan tertulis Kemlu, pertemuan tersebut membahas upaya mempererat kerja sama kedua negara —mulai dari ekonomi, perdagangan, investasi, hingga hubungan antarmasyarakat.
Kedua Menlu juga membahas penanganan isu bersama di kawasan, termasuk melalui pembentukan Joint Task Force yang mencakup pertukaran informasi, intelijen keuangan, dan pengumpulan bukti lintas batas.
“Menyongsong 60 tahun hubungan diplomatik pada 2027, Indonesia dan Singapura berkomitmen mengatasi berbagai tantangan secara konstruktif dan terbuka dengan semangat saling menghormati dan gotong royong,” tulis Kemlu dalam keterangan resminya, Rabu (28/10/2026).
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim bahwa Indonesia tidak melanggar perjanjian kerja sama, meskipun volume ekspor gas ke Singapura dipangkas sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Menurut Bahlil, pemotongan kuota sebesar 31 MMSCFD tersebut masih berada di dalam batas toleransi minimal ekspor yang telah disepakati dalam kontrak jangka panjang.
Besaran pemangkasan tersebut diperkirakan hanya mencakup sekitar 8% dari total ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura.
"Jadi, sekalipun terjadi pemotongan tidak kita melanggar aturan karena masih di dalam batas minimal ekspor, tidak melakukan pelanggaran aturan atau pelanggaran kontrak karena kita baru melakukan minimum," ungkap Bahlil dalam Konferensi Pers terkait Ketahanan Energi di Kantor Kementerian ESDM, Senin (26/10/2026).
Dia menilai pihak-pihak yang menganggap Indonesia melanggar kesepakatan ekspor gas tidak memahami klausul ketentuan dalam perjanjian tersebut secara utuh.
Kendati demikian, Bahlil menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia siap menyelesaikan potensi perselisihan atau keberatan dari Singapura melalui jalur dialog bilateral.
Adapun, terkait dengan pemangkasan ini Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong meminta semua pihak yang telah menandatangani kontrak komersial pasokan gas untuk menghormati komitmen yang telah disepakati.
Pernyataan tersebut disampaikan Lawrence Wong setelah Indonesia mulai memangkas ekspor gas alam ke Singapura pada Sabtu (24/10/2026).
Wong menegaskan importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut.
“Pasokan gas ini dilindungi oleh kontrak komersial. Kami berharap semua pihak memenuhi komitmen mereka, dan importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut,” kata Wong, dikutip dari Channel NewsAsia (CNA), Minggu (25/10/2026).
Otoritas Pasar Energi Singapura atau Energy Market Authority (EMA) menyatakan pengurangan pasokan tersebut kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian Singapura.
Meski dampaknya terhadap kebutuhan harian relatif terbatas, persoalan pasokan gas menjadi perhatian Singapura karena sekitar 95% listrik negara tersebut dihasilkan menggunakan gas alam.
Singapura juga mengimpor sebagian besar gasnya melalui jaringan pipa dari Indonesia.
Wong menyebut negara nya telah menyiapkan langkah antisipasi terhadap risiko gangguan pasokan, termasuk berinvestasi pada terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Infrastruktur tersebut memungkinkan Singapura mendatangkan gas dari berbagai negara sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan melalui pipa.
Di sisi lain, Wong menilai Singapura perlu mengembangkan sumber energi alternatif yang lebih bersih dan mampu memasok listrik secara andal sepanjang waktu. Salah satu opsi yang tengah dikaji pemerintah Singapura adalah energi nuklir.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto berbincang dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan dalam KTT Asean di Kuala Lumpur, Malaysia,
(azr/wdh)





























