Logo Bloomberg Technoz

Indeks komposit kehilangan 79,22 poin atau minus 1,5% ke level 5.186 pada pembukaan perdagangan.

Padahal, saham BNBR sempat menyentuh level Rp222 per saham pada Januari 2026 setelah perseroan menyelesaikan akuisisi PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

Adapun, investor asing ramai melepas saham kendaraan investasi keluarga Bakrie itu sepanjang tahun ini. Investor asing mencatat net foreign sell sekitar Rp83,95 miliar year-to-date.

Sejumlah broker asing yang melego saham BNBR sepanjang periode itu di antaranya KB Valbury Sekuritas (CP), Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) hingga Kiwoom Sekuritas Indonesia (AG).

CP melepas 37,6 juta lot saham BNBR di harga rata-rata Rp125 per saham dengan valuasi mencapai Rp463,2 miliar.

Sementara itu, ZP dan AG masing-masing melepas saham BNBR 3,2 juta lot di harga Rp123 per saham dan 4,5 juta lot di harga Rp120 per saham.

Selain itu, investor institusi BNBR juga terlihat melepas kepemilikannya sepanjang tahun ini. Beberapa investor institusi yang melepas saham BNBR di antaranya Bakrie Capital Indonesia, Port Fraser dan Levoca Enterprise.

Dari sisi kinerja keuangan, holding Bisnis Keluarga Bakrie itu mencatat rugi Rp224,81 miliar sepanjang semester I-2026 selepas menguasai ruas tol Cimanggis-Cibitung.

Padahal, BNBR mulai mengkonsolidasikan bisnis ruas tol Cimanggis-Cibitung sejak awal tahun ini yang ikut menopang kinerja operasional perseroan.

Mengutip laporan keuangan BNBR, pendapatan perseroan naik 45,85% menjadi Rp2,59 triliun sepanjang Januari-Juni 2026.

Kenaikan pendapatan itu didorong dari segmen infrastruktur dan manufaktur sebesar Rp2,23 triliun. Pendapatan segmen bisnis inti BNBR itu lompat 38,36% dari posisi periode yang sama tahun lalu sekitar Rp1,61 triliun.

Sementara itu, jasa pabrikasi dan konstruksi dan perdagangan masing-masing menyumbang pendapatan sebesar Rp216,98 miliar dan Rp142,97 miliar.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan BNBR ikut naik menjadi Rp1,94 triliun pada periode Januari-Juni 2026. Dengan demikian, laba bruto tinggal Rp649,97 miliar atau naik dua kali lipat dari posisi yang sama tahun sebelumnya sekitar Rp390,43 miliar.

Setelah dikurangi beban umum, administrasi dan beban penjualan, laba usaha BNBR tersisa Rp301,53 miliar, relatif membaik jika dibandingkan dengan posisi laba periode sebelumnya sekitar Rp78,68 miliar.

Hanya saja, laba usaha dan EBITDA BNBR mesti tergerus hebat kenaikan tingkat bunga mengambang atau floating rate biaya akuisisi pengelolaan ruas tol Cimanggis-Cibitung sejak akhir tahun lalu.

Beban bunga pinjaman pada pos akuisisi bisnis tol itu mencapai Rp540,17 miliar. Konsekuensinya, posisi untung pada kinerja operasional dan perbaikan margin perusahaan justru berbalik rugi sekitar Rp224,81 miliar pertengahan tahun ini.

Dari sisi neraca keuangan, BNBR mencatat total liabilitas sebesar Rp19,75 triliun, berasal dari komponen jangka pendek Rp4,33 triliun dan jangka panjang Rp15,42 triliun.

Sementara itu, total aset mencapai Rp24,28 triliun, berasal dari aset lancar Rp5,12 triliun dan aset tidak lancar Rp19,16 triliun. Di sisi lain, ekuitas neto relatif susut ke level Rp4,53 triliun.

(naw)

No more pages