“Hasil awal exit poll ini menunjukkan mosi tidak percaya sepenuhnya terhadap Netanyahu,” kata Eisenkot dalam sebuah pernyataan. “Saya akan segera bertindak untuk mewujudkan kehendak rakyat dan menggantikan pemerintahan Netanyahu.”
Dua partai Arab Israel, yang muncul sebagai calon penentu dalam pembentukan koalisi, diperkirakan meraih total 18 kursi, lebih banyak dari perkiraan sebelumnya, menurut hasil exit poll tersebut. Keduanya menyatakan akan mendukung Eisenkot dalam kadar tertentu, setelah menggalang dukungan untuk menggulingkan Netanyahu dan mencegahnya kembali menjabat, yang mereka yakini akan mengancam eksistensi mereka.
Tingkat partisipasi pemilih mendekati rekor tertinggi sepanjang hari, mencapai hampir 78% hingga pukul 22.00 waktu setempat, menurut Komite Pemilihan Umum Pusat Israel.
Jika Eisenkot, 66 tahun, berhasil menjadi perdana menteri, hal itu akan menandai kekalahan telak bagi Netanyahu, 77 tahun, yang mendominasi politik Israel selama sebagian besar dari tiga dekade terakhir dan memimpin negara itu melewati tiga tahun konflik yang nyaris tanpa henti. Meski hasil akhir pemilu masih belum pasti, dukungan signifikan yang mengantarkan Netanyahu ke tampuk kekuasaan pada 2022 tampak telah terkikis.
Banyak warga Israel menyalahkan Netanyahu karena gagal mencegah serangan Hamas terhadap Israel pada 2023 dan tidak mengambil tanggung jawab atas kegagalan tersebut. Serangan itu menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Sejak saat itu, Netanyahu melancarkan operasi militer di Gaza, Lebanon, Suriah, serta terhadap Iran. Dia bersikeras bahwa operasi-operasi tersebut telah membuat Israel lebih aman.
“Publik telah menyampaikan sikapnya—mereka telah memecat pemerintahan Netanyahu,” kata Yair Golan, pemimpin Partai Demokrat yang berhaluan kiri dan merupakan bagian dari blok Eisenkot, dalam sebuah pernyataan. “Kami mewakili konstituen yang sangat besar, yang telah berjuang di jalanan selama empat tahun,” ujarnya. “Kami siap bekerja sama dengan mitra-mitra kami, menjembatani perbedaan, dan mengambil tanggung jawab.”
Namun, proses pembentukan pemerintahan baru kemungkinan membutuhkan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu. Selama proses tersebut, Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri Israel. Posisi itu memungkinkan dia bergabung dengan Presiden AS Donald Trump dalam melancarkan kembali serangan udara terhadap Iran setelah pemilu sela AS pekan depan, sebagaimana berulang kali diancamkan oleh keduanya.
Trump sebelumnya menyatakan dukungannya kepada Netanyahu, dengan mengatakan bahwa petahana tersebut memiliki kemampuan untuk “menuntaskan pekerjaan” dalam perang selama delapan bulan melawan Republik Islam Iran.
Eisenkot memosisikan dirinya sebagai alternatif yang lebih bersahaja dibandingkan Netanyahu, sembari tetap menegaskan komitmennya untuk mengatasi beragam tantangan keamanan Israel. Terkait Iran, dia mengatakan program nuklir negara itu harus dibatasi, termasuk melalui tindakan militer jika diperlukan. Namun, menurutnya, pergantian rezim di Teheran “bukanlah tujuan yang dapat dicapai.”
Tidak ada partai dalam sejarah Israel yang pernah memenangkan mayoritas mutlak dalam pemilu. Kondisi ini membuat proses negosiasi koalisi pemerintahan kerap berlangsung lama. Presiden Isaac Herzog akan menunjuk calon perdana menteri berdasarkan hasil penghitungan suara dan rekomendasi partai-partai politik.
Tempat pemungutan suara (TPS) di sejumlah wilayah Tel Aviv dipadati pemilih pada Selasa. Antrean mengular di sekolah-sekolah, tempat banyak TPS didirikan, hingga meluber ke jalanan. Sejumlah partai politik mendirikan stan yang memutar musik dengan volume keras serta membagikan balon, permen, dan stiker kepada para pemilih beserta anak-anak mereka.
Selain keamanan nasional, pemilih juga memberikan suara terkait sejumlah isu dalam negeri, termasuk kewajiban bagi pria muda ultra-Ortodoks untuk menjalani wajib militer. Kewenangan Mahkamah Agung dan sistem peradilan, yang berupaya dilemahkan Netanyahu, serta transparansi dan korupsi juga menjadi agenda utama.
Bagi warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel, tempat kekerasan oleh pemukim Yahudi terhadap warga Arab meningkat tajam sejak serangan Hamas, pemilu ini kemungkinan tidak akan membawa perubahan langsung.
Seperti Netanyahu, Eisenkot menolak solusi dua negara dengan alasan bahwa langkah tersebut akan mengancam keamanan Israel. Meski demikian, dia mengecam pemerintah karena mendukung warga Israel yang menyerang warga Palestina.
(bbn)






























