Logo Bloomberg Technoz

Walaupun pelemahan rupiah siang ini tertahan, sejatinya rupiah masih mengadapi tekanan eksternal, terutama yang berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah, harga minyak yang tetap tinggi, potensi tambahan 'dosis' pengetatan moneter The Fed, serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang bisa mengurangi daya tarik aset negara berkembang. 

Tekanan itu berjalan bersamaan dengan sentimen domestik yang membayangi gerak rupiah. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menilai, pelebaran proyeksi defisit transaksi berjalan jadi 1,6-2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan ketidakpastian penilaian MSCI memberbesar kebutuhan pembiayaan eksternal sekaligus menahan pemulihan kepercayaan investor. 

"Dengan mempertimbangan kondisi tersebut, saya memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.000-18.500/US$ sepanjang sisa kuartal IV-2026, dengan kecenderungan berada di sekitar Rp18.100-18.400/US$ pada akhir tahun," kata Josua kepada Bloomberg Technoz. 

Ia menambahkan, perkirakan ini sejalan dengan meningkatnya tekanan eksternal dan memburuknya sentimen pasar. Bahkan, Josua memperkirakan dalam skenario tekanan yang lebih berat, ketika harga minyak tetap tinggi, The Fed semakin ketat, dan berlanjutnya arus modal keluar, rupiah berisiko melemah menuju Rp18.600-19.000/US$. 

Sebaliknya, ia memperkirakan jika harga minyak bisa kembali terkoreksi dan ketegangan geopolitik mereda, maka rupiah bisa punya peluang menguat di rentang Rp17.800-18.000/US$. 

Dengan catatan, semua rentang pergerakan rupiah itu bukan hasil simulasi ekonometrika, melainkan estimasi bersyarat. "Menurut saya, risiko rupiah hingga akhir tahun masih lebih condong ke arah pelemahan, tetapi belum menunjukkan bahwa depreasi akan berlangsung tanpa kendali mengingat BI masih memiliki ruang stabilisasi dan ketahanan fundamental ekonomi domestik yang relatif terjaga," katanya.

(dsp/aji)

No more pages