Sehingga, menurut Destry, strategi import substitution (alternatif barang impor) dan export promotion (promosi ekspor) menjadi kunci untuk memperkecil defisit neraca pembayaran, bahkan mengubahnya menjadi surplus.
“Nah dalam hal ini kami juga di Bank Indonesia berusaha untuk mendiversifikasi penggunaan export untuk transaksi, perdagangan dan investasi kita,” katanya.
Menurt Destry, BI menggunakan kebijakan ataupun mekanisme local currency transaction (LCT)yang saar ini sudah diterapkan dengan 6-7 negara dengan mata uang lokal masing-masing.
Menurut Destry, hal ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap Dolar. Saat ini, total transakski LCT telah meningkat menjadi US$55 miliar dari sebelumnya US$25 miliar.
“Mainly adalah dari China. China itu sangat besar. Nah dengan adanya diversifikasi dari penggunaan mata uang untuk transaksi ekspor, impor ataupun investasi tentu nantinya ini akan mengurangi penggunaan juga US$ sehingga juga nilai tukar kita juga akan bisa lebih balance,” kata Destry.
BI mengumumkan NPI tercatat defisit US$ 0,9 miliar pada kuartal II-2026. Jauh lebih sedikit ketimbang kuartal sebelumnya yang minus US$ 9.1 miliar.
Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa NPI sudah berada di zona negatif selama tiga kuartal berturut-turut.
Berdasarkan komponen pembentuknya, transaksi berjalan tercatat defisit US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jauh melebar ketimbang defisit kuartal sebelumnya yakni US$ 3,6 miliar (1% PDB).
"Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan non-migas. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.
(ell)





























