Logo Bloomberg Technoz

Terpilih kembali untuk masa jabatan keempat yang belum pernah terjadi sebelumnya, Lula memperpanjang karier politiknya yang telah berlangsung lebih dari empat dekade. Kemenangan ini sekaligus menjadi pukulan telak bagi gerakan yang dibangun mantan Presiden Jair Bolsonaro. Putra sulung Bolsonaro berupaya membawa nama keluarga dan aliran populisme bernuansa MAGA kembali ke istana kepresidenan.

Sebagai presiden tertua dalam sejarah Brasil, Lula kini memiliki empat tahun tambahan untuk menstabilkan ekonomi terbesar di Amerika Latin sekaligus berupaya meredakan polarisasi politik yang terungkap selama kampanye sengit. Namun, tugas tersebut nyaris mustahil.

Di dalam negeri, realitas sosial menunjukkan bahwa Brasil terbelah oleh ideologi yang sulit dipertemukan. Identitas dan keyakinan Lula terbentuk melalui kiprahnya sebagai pemimpin serikat pekerja, perlawanan terhadap kediktatoran Brasil, serta kritiknya terhadap intervensi militer AS di luar negeri. Sementara itu, pandangan politik musuh bebuyutannya berakar pada konservatisme patriarkal, semangat evangelis, dan kapitalisme yang cenderung tanpa batas.

Lula juga menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan, terutama mengatasi defisit dan utang yang terus meningkat sehingga mempertahankan suku bunga pada level tinggi. Kondisi ini memicu kecemasan investor. Namun, yang lebih mendesak bagi Lula, rumah tangga Brasil kini terbebani utang, dengan tingkat gagal bayar pinjaman pribadi mencapai level tertinggi dalam dua dekade.

“Ia mungkin berpikir telah mendapat kelonggaran, tetapi ia terpilih kembali dalam situasi rapuhnya institusi,” kata Creomar de Souza, analis politik sekaligus pendiri dan CEO Dharma Political Risk and Strategy yang berbasis di Brasilia. “Ia harus mampu membangun koalisi, meskipun kemenangannya mengirimkan pesan kuat kepada kelompok kanan radikal, yang harus memikirkan kembali cara mereka beroperasi.”

Lula mengakhiri masa jabatan keduanya secara berturut-turut pada 2010 dengan tingkat persetujuan publik sebesar 83%, angka yang kini hanya bisa diimpikan para politikus. Barack Obama, yang masa kepresidenannya beririsan dengan dua tahun terakhir pemerintahan Lula, pernah menyebutnya sebagai “politikus paling populer di Bumi.”

Namun, masa kejayaan itu telah lama berlalu. Berbagai fase kepemimpinan Lula berikutnya tercoreng skandal korupsi dan masa penahanan di penjara, sehingga pamornya memudar. Bahkan ketika ia melakukan kebangkitan politik pertamanya untuk mencegah Jair Bolsonaro menjabat untuk periode kedua, muncul anggapan bahwa Lula hanya menawarkan pendekatan lama untuk mengatasi persoalan Brasil yang telah berlarut-larut, sekaligus tantangan baru.

Bantuan langsung pemerintah bukanlah jawaban bagi generasi muda yang tumbuh dalam ekonomi gig atau sistem kerja berbasis platform digital. Penolakannya untuk memiliki telepon seluler hingga pekan terakhir kampanye menjadi tanda bahwa Lula, yang dahulu memahami denyut nadi masyarakat, kini mulai kehilangan sentuhan dengan realitas rakyat.

Lula memang nyaris menyaksikan berakhirnya karier politiknya yang panjang dan bersejarah. Bolsonaro, putra sekaligus pewaris politik mantan presiden yang memimpin Brasil pada 2019–2022, memenangkan putaran pertama pemilihan pada 4 Oktober.

Bolsonaro bertindak seolah-olah telah memenangkan pemilihan, kemungkinan karena tidak ada kandidat yang berada di posisi kedua pada putaran pertama berhasil membalikkan keadaan dalam putaran kedua sejak Brasil kembali ke demokrasi pada 1989. Namun, kepercayaan dirinya keliru. Jika ada satu hal yang diketahui setiap politikus tentang Lula, sosok yang berkali-kali bertahan dalam pergolakan politik Brasil, adalah bahwa ia tidak mudah menyerah.

Presiden Lula melancarkan serangkaian kebijakan untuk mengurangi tekanan keuangan rumah tangga. Langkah-langkah tersebut mencakup peningkatan bantuan keluarga melalui program Bolsa Família, larangan perjudian daring, rencana besar untuk merestrukturisasi utang konsumen melalui bank swasta, hingga distribusi obat suntik penurun berat badan melalui sistem layanan kesehatan publik Brasil.

Dalam 15 hari terakhir kampanye putaran kedua, Lula berfokus pada pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya pada putaran pertama serta meningkatkan upaya untuk menarik dukungan pemilih yang belum menentukan pilihan.

Kedekatannya dengan pemilih berpenghasilan rendah terlihat jelas, terutama di kawasan Timur Laut Brasil yang padat penduduk dan menjadi tempat bermulanya perjalanan hidup Lula yang kerap dipuji. Kedekatan itulah yang menyelamatkannya, berkat loyalitas yang masih mampu ia bangkitkan di antara jutaan pendukungnya.

“Kawasan Timur Laut akan kembali menyelamatkan negara ini,” kata Antonio Avelino, 73 tahun, sepekan sebelum pemilihan, saat mengemudikan taksinya menyusuri jalan-jalan di Kota São Paulo.

Presiden Luiz Inácio Lula da Silva Menang Pemilu Brasil. (Bloomberg)

Meski demikian, skala tantangan yang menanti Lula mungkin belum pernah sebesar sekarang. Ia juga belum memiliki penerus politik yang jelas, sementara faktor usia kian menjadi persoalan. Lula sebelumnya bersumpah tidak akan maju dalam pemilihan kali ini, sebelum akhirnya mengubah keputusan.

Ia harus segera merespons kekhawatiran investor bahwa pemerintahannya akan kembali menerapkan disiplin fiskal dan menghentikan kebijakan yang membuat Brasil semakin terlilit utang.

Pada masa jabatan ketiganya, tingkat pengangguran Brasil turun mendekati rekor terendah, mencapai 5,4% pada Juli. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Brasil melampaui AS dan berulang kali melampaui perkiraan ekonom.

Lula juga menaikkan upah minimum di atas laju inflasi dan mengubah sistem perpajakan untuk mengurangi beban pajak masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, sekaligus meningkatkannya bagi kelompok terkaya.

Namun, tingkat persetujuan publik terhadap Lula mencapai titik terendah sepanjang sejarah selama masa jabatannya saat ini. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa banyak warga Brasil belum merasakan peningkatan daya beli, di tengah inflasi yang terus naik dan memicu krisis biaya hidup.

Lula telah menjanjikan penyesuaian fiskal tanpa menjelaskan secara terperinci cara mewujudkannya. Pada saat yang sama, ia menegaskan tidak akan mengorbankan agenda sosialnya demi memenuhi tekanan dari pasar keuangan.

Ketika kembali berkuasa pada 2023, setelah menjalani hukuman penjara atas tuduhan korupsi yang kemudian dibatalkan, Lula mengatakan bahwa ia mewarisi negara yang telah “dihancurkan” oleh Bolsonaro. Namun, ia juga mendapati Brasil yang lebih kompleks serta lingkungan internasional yang tidak bersahabat, dengan AS yang semakin agresif dan kian khawatir terhadap meluasnya pengaruh China di kawasan tersebut.

Meski demikian, Lula menemukan caranya sendiri untuk menghadapi Donald Trump. Ketika pemimpin AS itu meningkatkan tekanan terhadap Brasil dengan mengintensifkan ancaman tarif, Lula tetap bertahan pada pendiriannya. Di luar dugaan, keduanya bertemu secara bersahabat di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2025. Beberapa bulan kemudian, Trump mengundang Lula ke Gedung Putih, memuji kecerdasannya, dan menyebutnya sebagai “orang baik”.

Ketika pertama kali berkuasa, Lula merupakan bagian dari fenomena yang disebut Pink Tide, yakni gelombang kebangkitan pemimpin progresif di Amerika Latin pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Tren tersebut kini berbalik. Meski kawasan ini kerap mengalami pergeseran politik, Brasil dan Meksiko saat ini menjadi dua negara yang masih dipimpin kelompok kiri.

Kedaulatan menjadi tema utama kampanye Lula. Ia diperkirakan akan tetap mengambil sikap tegas dengan menekankan bahwa Brasil terlalu besar untuk berada di halaman belakang negara mana pun. Pernyataan ini merujuk pada upaya Trump memperluas pengaruh AS di seluruh Amerika Latin.

Di dalam negeri, salah satu prioritas Lula adalah menetapkan aturan bagi pengembangan industri mineral kritis Brasil. Brasil memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kedua di dunia setelah China. Dalam beberapa bulan terakhir, negara tersebut semakin menarik perhatian pemerintah dan perusahaan asing yang ingin memperluas pijakan di sektor ini.

Lula juga harus menghadapi berbagai pusat kekuasaan lain di Brasil, termasuk anggota parlemen yang sulit dikendalikan tetapi memiliki pengaruh besar, lobi industri agribisnis yang kuat, serta Mahkamah Agung yang sangat dipolitisasi dan tidak segan melampaui batas kewenangannya.

Di tengah semakin sengitnya kampanye pemilu, Lula berhasil memperoleh persetujuan parlemen untuk mempersingkat standar jam kerja. Kini, ia berjanji mendorong perubahan sistem peradilan setelah runtuhnya Banco Master mengungkap dugaan jaringan penipuan, suap, dan hubungan kelembagaan dengan sejumlah tokoh senior di Mahkamah Agung.

Berhasil bangkit kembali bukan hanya sekali, melainkan dua kali, mungkin merupakan bagian yang relatif mudah. Jika Lula ingin mengukuhkan warisan politiknya sebagai sosok yang lebih dari sekadar penyintas politik, ia harus memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk memberantas berbagai persoalan yang selama puluhan tahun menghambat Brasil mencapai potensinya.

(bbn)

No more pages