Eko menilai, perkembangan AI turut memperbesar kebutuhan tenaga ahli keamanan siber. Teknologi tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan aplikasi, tetapi juga dapat digunakan oleh pelaku kejahatan untuk mempercepat proses pencarian celah keamanan dan melancarkan serangan.
Karena itu, pengembangan talenta perlu diarahkan pada penguasaan AI dan keamanan siber secara bersamaan. Selain memahami teknologi, tenaga ahli juga perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan risiko yang dihadapi masing-masing sektor.
Dalam pemaparannya, Eko menyebut ITSEC Asia turut mendorong pengembangan talenta melalui ITSEC Academy. Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan sumber daya manusia yang mampu menghadapi ancaman digital pada skala nasional.
“Ini alasannya ITSEC Asia ada ITSEC Academy. Karena kita percaya bahwa kita harus mampu menghasilkan talenta siber dan AI pada tingkat nasional,” ujar Eko.
Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam memperluas literasi AI serta keamanan siber. Pengembangan kompetensi, menurut dia, perlu dilakukan melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam AICX 2026, forum yang diselenggarakan ITSEC Asia bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai bagian dari Bali Tech Week 2026. Acara ini dihadiri lebih dari 600 peserta dan 25 pembicara nasional maupun internasional.
Eko berharap penguatan talenta dapat menjadi fondasi bagi Indonesia untuk mengembangkan kemampuan teknologi sendiri dan meningkatkan daya saing di tingkat global, khususnya dalam bidang AI, keamanan siber, dan tata kelola teknologi kuantum.
(tim)




























