Logo Bloomberg Technoz

ANGGARAN ENERGI

Menghitung Beban Subsidi BBM Usai ICP Januari—Oktober Capai US$92

Sabrina Mulia Rhamadanty
21 October 2026 11:50

Seorang petugas melayani pelanggan di sebuah SPBU milik PT Pertamina (Persero)./Bloomberg-Dimas Ardian
Seorang petugas melayani pelanggan di sebuah SPBU milik PT Pertamina (Persero)./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pengamat komoditas sekaligus pendiri Traderindo Wahyu Laksono memperingatkan potensi pembengkakan defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026 akibat rerata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) yang telah menembus US$92/barel pada Januari—Oktober.

Menurutnya, Indonesia saat ini menanggung beban berat karena berstatus sebagai negara importir neto minyak.

Kebutuhan konsumsi bahan bakar nasional saat ini mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan produksi siap jual (lifting) minyak domestik hanya sekitar 600.000 bph. Kesenjangan ini membuat setiap kenaikan harga minyak dunia berdampak negatif terhadap postur anggaran negara.


"Secara hitung-hitungan sensitivitas fiskal, setiap kenaikan US$1 per barel ICP memicu pembengkakan belanja subsidi bahan bakar minyak [BBM] Rp8,5 triliun hingga Rp10,5 triliun," kata Wahyu saat dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (21/10/2026). 

Sejumlah pengendara mengantre mengisi BBM di SPBU Pertamina, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Dia menambahkan, di sisi penerimaan, tambahan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) maupun pajak penghasilan (PPh) migas hanya bertambah sekitar Rp3,5 triliun hingga Rp5 triliun.