Dia menambahkan, AI memungkinkan pelaku kejahatan mengembangkan program serangan dengan lebih cepat. Karena itu, organisasi tidak cukup hanya mengandalkan metode keamanan yang selama ini digunakan, tetapi perlu memahami cara kerja AI sekaligus memperkuat kemampuan sistem dalam merespons ancaman otomatis.
Dalam pemaparannya, Eko menekankan pentingnya pergeseran menuju sistem pertahanan yang mengintegrasikan AI. Dia juga mengingatkan bahwa ancaman siber tidak mengenal jam kerja, sedangkan organisasi memiliki keterbatasan sumber daya dan waktu operasional.
“Karena kita harus mampu mendeteksi, melindungi, dan jika diperlukan, melawan serangan dalam hitungan mikrodetik,” ujarnya.
Hal tersebut disampaikan dalam AICX 2026 yang diselenggarakan ITSEC Asia bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Forum yang menjadi bagian dari Bali Tech Week 2026 ini menghadirkan lebih dari 600 peserta dan 25 pembicara nasional maupun internasional dari unsur pemerintah, regulator, pelaku usaha, praktisi teknologi, dan akademisi.
Eko menilai, penguatan keamanan siber perlu disertai peningkatan literasi AI dan keamanan digital di berbagai lapisan masyarakat. Pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman.
“Saran saya, untuk pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, sama-sama kita tingkatkan literasi AI dan cyber security,” kata Eko.
(tim)




























