Logo Bloomberg Technoz

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan PGTC memiliki peran dalam menjembatani pengetahuan yang diperoleh mahasiswa dengan persoalan nyata yang dihadapi industri energi.

“Saya masih ingat saat membuka PGTC di ITB bulan Mei lalu, saya titipkan pesan sederhana: stay curious, stay courageous. Hari ini saya tidak lagi hanya melihat rasa ingin tahu, tapi melihat bukti nyata keberanian adik-adik semua. Selama berbulan-bulan kalian belajar, berdebat, meneliti, menguji ide, dan menyempurnakan gagasan. Inilah makna dari Move Faster, Impact Further," ujar Simon.

Simon juga menyoroti kebutuhan akan keterlibatan generasi muda dalam menghadapi tantangan sektor energi. Menurutnya, pengembangan gagasan dan inovasi menjadi bagian dari kontribusi yang dapat diberikan generasi muda.

“Tantangan energi Indonesia membutuhkan kontribusi bersama, termasuk generasi muda,” jelas Simon.

PGTC Jadi Ruang Uji Gagasan Mahasiswa

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng. turut mengapresiasi partisipasi mahasiswa dalam rangkaian PGTC 2026.

Menurut Khairul, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus menguji gagasan melalui dua kompetisi utama, yakni EDC dan EIC.

"Adik-adik dilatih berpikir kritis, membangun argumen berbasis bukti, sekaligus berani menguji gagasan di hadapan publik. Melalui EIC, adik-adik ditantang melangkah lebih jauh, tidak hanya memahami persoalan energi, tetapi ikut menawarkan solusi. Inilah makna sebenarnya dari Dikti Saintek Berdampak atau Kampus Berdampak, bergeser dari sekadar menghasilkan keluaran menuju menghasilkan dampak," ujar Khairul Munadi.

EDC memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan debat dan argumentasi. Sementara EIC mendorong mahasiswa mengembangkan gagasan serta inovasi yang berkaitan dengan persoalan energi.

Kedua kompetisi tersebut menghadirkan pendekatan berbeda dalam mengembangkan kapasitas mahasiswa. EDC menitikberatkan kemampuan mengkritisi dan mempertahankan gagasan, sedangkan EIC memberikan ruang untuk menghasilkan ide serta solusi melalui karya.

Khairul juga menilai persoalan energi perlu dilihat dari berbagai dimensi. Tidak hanya aspek teknis, tetapi juga berkaitan dengan teknologi, ekonomi, lingkungan, dan keberlanjutan.

“Pesan saya, jangan berhenti pada kompetisi. Kompetisi hanyalah ruang eksplorasi. Dekatkan ilmu dengan persoalan nyata dan mulailah berkontribusi hari ini," tambahnya.

Pesan tersebut menjadi bagian dari penutupan PGTC 2026 yang tidak hanya menandai berakhirnya rangkaian kompetisi, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan gagasan yang telah dikembangkan.

Pertamina Buka Akses ke Ekosistem Industri

Penutupan PGTC 2026 juga memberikan kesempatan kepada tamu undangan untuk melihat lebih dekat ekosistem Pertamina melalui booth Pertamina Group.

Selain itu, terdapat booth yang menampilkan karya para finalis EIC. Kehadiran booth tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan gagasan dan karya yang telah mereka kembangkan selama mengikuti kompetisi.

Interaksi di area tersebut membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk berdiskusi dengan para pemangku kepentingan di lingkungan Pertamina. Dengan demikian, kegiatan PGTC tidak berhenti pada tahapan kompetisi, tetapi juga mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan industri.

Rangkaian penutupan juga diisi dengan pemberian apresiasi kepada sejumlah Subholding dan Anak Perusahaan Pertamina yang mendukung pelaksanaan PGTC 2026.

Sebanyak 16 entitas Pertamina mendapatkan sertifikat apresiasi dalam rangkaian kegiatan tersebut. Dukungan berbagai entitas tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan program yang berlangsung selama lebih dari empat bulan.

Sejak kick-off di ITB pada Mei, PGTC 2026 membawa mahasiswa ke dalam rangkaian kegiatan yang mencakup pembelajaran, kompetisi, serta roadshow di berbagai wilayah Indonesia.

Rangkaian tersebut dirancang untuk memperluas kesempatan mahasiswa dalam memahami isu energi sekaligus berinteraksi dengan berbagai perspektif dari lingkungan industri.

Melalui tema "Energizing Acceleration for Future Impact", PGTC 2026 menempatkan pengembangan talenta muda sebagai salah satu bagian penting dari program. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya memahami persoalan energi, tetapi juga mengembangkan keberanian untuk menyampaikan gagasan dan mencari solusi.

Penutupan program menjadi titik akhir dari rangkaian PGTC 2026 sekaligus ruang apresiasi terhadap mahasiswa yang telah mengikuti seluruh proses. Kompetisi EDC dan EIC menjadi dua jalur yang mempertemukan kemampuan argumentasi dengan inovasi.

Bagi Pertamina, rangkaian tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan sektor energi. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menguji kemampuan, membangun jejaring, dan memahami lebih dekat persoalan yang dihadapi industri.

Dengan berakhirnya PGTC 2026, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama rangkaian program diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengembangkan gagasan dan kontribusi di bidang energi.

PGTC 2026 juga memperlihatkan bahwa pengembangan talenta tidak hanya berlangsung melalui proses pembelajaran di kampus. Kompetisi, interaksi dengan industri, pengujian ide, dan pengalaman langsung menjadi bagian dari proses membangun perspektif generasi muda mengenai masa depan energi Indonesia.

Melalui semangat "Energizing Acceleration for Future Impact", Pertamina menutup rangkaian PGTC 2026 dengan menempatkan gagasan, inovasi, dan kontribusi generasi muda sebagai bagian dari pembahasan mengenai masa depan sektor energi.

(tim)

No more pages