Aida mengatakan faktor global dengan harga komoditas seperti minyak volatil dan kenaikan suku bunga acuan AS menambah tekanan dari sisi kebijakan suku bunga (policy rate) global, dan membuat dolar AS menguat. "Sehingga rupiah mengalami gangguan dari sisi sentimennya," kata Aida.
Aida melanjutkan, strategi BI satu bulan terakhir utamanya adalah mengupayakan stabilitas rupiah dengan melihat selisih yield, terutama usai adanya kenaikan pada US Treasury tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 5%.
"Di situlah kami memasukkan insentif untuk capital inflows sehingga menjaga nilai tukarnya, tidak memilih menaikkan BI Rate karena punya dampak terhadap harga-harga (di pasar) domestik," kata Aida.
Dengan begitu BI masih memperkuat rupiah melalui jalur non-suku bunga, seperti memperkuat insentif swap, DNDF, serta mengoptimalkan local currency trasaction.
Strategi BI menjaga rupiah melalui instrumen pasar itu bisa dipahami sebagai menjadi jalan tengah. Di satu sisi mempertahankan suku bunga agar tidak semakin membebani perekonomian, sembari tetap menjaga daya tarik aset keuangan domestik.
(dsp/aji)



























