Logo Bloomberg Technoz

Dia mengestimasi jika 1 juta pelanggan di antaranya memasang sistem PLTS atap dengan kapasitas rata-rata 5 kilowatt-peak (kWp), total kapasitas listrik bersih yang terpasang akan mencapai 5 gigawatt (GW). 

"Menurut kami, target penambahan 1 juta pelanggan tersebut dinilai realistis untuk dicapai dalam kurun waktu tiga tahun ke depan guna mendukung pencapaian target energi baru dan terbarukan (EBT) nasional sebesar 100 GW," jelasnya. 

Lebih lanjut, Fabby menjelaskan penerapan sistem baterai pada instalasi rumah tangga memungkinkan energi simpanan disalurkan kembali ke jaringan (grid) PLN saat pembangkit konvensional mengalami defisit pasokan akibat iklim ekstrem.

Dia menekankan pentingnya kesiapan skema dan regulasi pendukung untuk mengoptimalkan integrasi tersebut.

Fabby menyayangkan penghapusan skema net-metering atau ekspor-impor listrik melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang terhubung pada jaringan tenaga listrik pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. 

"Padahal, pemberlakuan kembali skema tersebut dengan aturan jam penyaluran yang jelas diyakini mampu memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas pasokan listrik nasional," jelasnya.

IESR mencatat total potensi PLTS atap di sektor rumah tangga Indonesia berkisar antara 190 GW hingga 600 GW. Fabby optimistis optimalisasi segmentasi pelanggan PLN di atas 2.200 VA saja sudah mampu menyumbang sekitar 20 hingga 30 GW terhadap target EBT nasional.

Untuk diketahui, pemasangan PLTS atap memerlukan estimasi waktu yang relatif singkat tetapi bertahap. Proses ini diawali dengan survei lokasi dan analisis konsumsi listrik, diikuti oleh perencanaan teknis serta pengurusan izin ke PLN, seperti perizinan sistem on-grid atau kuota sistem. 

Setelah seluruh dokumen legalitas dan persetujuan teknis rampung, instalasi fisik panel surya dan inverter di atap rumah umumnya hanya memakan waktu 1–3 hari kerja. Namun, total durasi dari tahap konsultasi hingga sistem siap dioperasikan (commissioning) biasanya membutuhkan waktu sekitar 2–6 minggu.

Dari segi finansial, besaran biaya instalasi sangat bergantung pada kapasitas daya (kWp) yang dibutuhkan dan jenis komponen yang dipilih. Untuk skala rumah tangga kecil hingga menengah (kapasitas 1,5–3 kWp), perkiraan investasi awal berada di kisaran Rp20 juta–Rp50 juta. 

Biaya ini sudah mencakup paket panel surya, inverter, struktur penyangga (mounting), kabel hingga jasa pemasangan.

Sebelumnya, fenomena El Niño telah memicu penurunan debit air di sejumlah wilayah, sehingga mengganggu optimasi produksi listrik dari PLTA, contohnya di Sulawesi Selatan. 

Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo menyatakan fenomena El Ninõ telah menyebabkan penurunan kapasitas daya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) secara signifikan.

Dia menyebut pasokan listrik dari PLTA di wilayah Sulawesi bagian selatan berkurang hingga sekitar 650 megawatt (MW).

"Dengan ada kondisi El Ninõ ini, PLTA itu kapasitasnya menjadi sangat berkurang. Sebagai contoh di Sulawesi bagian selatan itu berkurang sekitar 650 MW," ungkap Darmawan saat ditemui awak media usai agenda MKI Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Selasa (22/9/2026).

Adapun, porsi PLTA dalam struktur kelistrikan Sulawesi Selatan relatif besar yaitu menyumbang sekitar 37% atau setara 750 MW dari total kapasitas pasokan energi listrik regional.

Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah sedang menyiapkan pembangkit listrik lain sebagai sumber energi akibat keringnya sumber air PLTA, termasuk melalui PLTU batu bara, sebagai pasokan pengganti sementara.

"Itu yang terjadi di beberapa wilayah yang memakai PLTA, dan perlahan-lahan sudah mulai bisa diatasi. [Untuk] sementara pengganti [PLTA] dengan pembangkit yang lain," kata Bahlil pada kesempatan yang sama.

Dia menjelaskan penurunan debit air sungai tidak hanya menurunkan daya pembangkit listrik, tetapi juga menyebabkan pendangkalan alur pelayaran perahu di kawasan Papua.

"Bahkan sebagian sungai yang tadinya bisa dilalui perahu atau kapal, kayak di Papua, di Papua Selatan untuk menuju Asmat naik itu agak mengalami kedangkalan daripada sungai," kata dia.

(smr/ros)

No more pages